Saturday, August 4, 2012

MENGAPA JARI TANGAN MANUSIA JUMLAHNYA HARUS LIMA?




Comedi ala Medico Fakultas Kedokteran  Universitas Udayana Bali.


“a drop of ink can move a million of people to think”
(unknown)


Kuliah di Fakultas Kedokteran itu banyak suka dukanya. Tapi menurutku kayaknya lebih banyak dukanya ketimbang sukanya. Tapi tergantung juga kepada mahasiswanya sendiri. Harus memiliki kiat-kiat sendiri untuk menyasati hal-hal yang menyebalkan agar dapat menikmati budaya kuliah di Fakultas Kedokteran, di Universitas manapun di belahan bumi ini. 

Setelah saya renungkan baik-baik, saya tiba pada satu kesimpulan bahwa, sebenarnya pekerjaan seorang dokter, tidak jauh beda dengan seorang COMEDIAN (PELAWAK). Kalau lawakan seorang COMEDIAN lucu, maka dia akan mampu membuat penonton tertawa. Tapi jika lawakannya tidak lucu, maka sudah pasti penonton mungkin bukan hanya tidak akan tertawa, tapi juga malah boring (membosankan). 

Demikian juga seorang dokter. Jika mampu menyembuhkan seorang pasien, maka pasien dan keluarganya akan tertawa karena merasa senang dan bahagia bisa sembuh dan terbebas dari penyakit, walau bukan berarti terbebas dari kematian. Karena sehebat apapun seorang dokter, toh pada akhirnya, akan tiba saatnya pasien yang hari ini sembuh, mungkin 2 minggu atau 2 bulan atau bahkan 20 atau 30 tahun mendatang akan meninggal juga.   

Dalam Bahasa Portugis, sebutan DOKTER, biasa juga dikenal dengan istilah: “MEDICO” (dilafalkan: meediku, dengan memberikan penekanan pada suku kata: “mee”). Sama seperti Anda melafalkan frasa (kata); AMERIKA dalam logat bahasa Inggris (Ameerika).

Nah, bukankah MEDICO (DOKTER) itu sama dengan COMEDI (PELAWK). Dua kata yang sama-sama terdiri dari 6 huruf yang jenis hurufnya sama persis. Makanya saya katakana; “Seorang MEDICO tak jauh beda dengan seorang COMEDI(AN). 

Saya meninggalkan Fakultas Teknik UNIBRAW (Universitas Brawijaya) di Malang Jawa Timur (saya memasuki UNIBRAW untuk Jenjang S1 melalui jalur SIPENMARU = Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru) dan pindah ke Bali serta berhasil diterima di FK UNUD (Fakultas Kedokteran Universitas Udayana) melalui jalur yang sangat aneh. Bukan jalur SIPENMARU (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Juga bukan jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Bakat). Juga bukan melalui jalur Pemilihan Bibit Unggul Daerah. Pokoknya melalui jalur aneh yang belum saatnya dibahas. 

Dan lebih aneh lagi, Dekan FK UNUD saat itu, memutuskan untuk menerima saya di FK UNUD, tanpa pernah bertemu saya sebelumnya. Maaf terbalik. Seharusnya (lebih sopan) saya menulis begini; “Tanpa saya temui Beliau (Dekan FK UNUD) sebelumnya”. Pokoknya jalur PINTU saya memasuki FK UNUD, anh dan ajaib. Suatu saat akan saya ceritakan dan tempat ceritaku dalam konteks sebagai satu KESAKSIAN IMAN, di FB RAMA CRISTO. Tapi bukan saat ini dan di sini.  

Yang akan saya kisahkan pada saat ini adalah satu peristiwa lucu yang terjadi pada suatu hari, saat mengikuti praktikum ANATOMI. Dulu pada jaman saya, mata kuliah ANATOMY, bebannya adalah 12 SKS yang dibagi menjadi; ANATOMY I = 6 SKS. ANATOMY II = 6 SKS. Termasuk mata kuliah Mikrobiologi dan Fisiologi juga masing-masing 6 SKS. Tidak tahu apakah saat ini hukumnya masih sama? Dengan beban SKS yang demikian besar (6 SKS), maka jika seorang mahasiswa tidak lulus ANATOMY, pasti IP-nya anjlok nggak karu-karuan. Dan akhirnya tidak mampu melompati TEMBOK TINGGI, yang memisahkan Semster V dan Semester VI, lalu akhirnya DO (Drop Out). 

Dulu banyak sekali mahasiswa FK UNUD yang berguguran gara-gara TEMBOK TINGGI tersebut. Kalau mau jujur, sebenarnya, saya hendak berkata; “Kurikulum FK UNUD UNUD jaman dulu, sangat feodal. Untuk memperoleh nilai C saja, susahnya minta ampun. 

Pada suatu hari, ketika praktikum ANATOMY, saya masuk terlambat. Bahkan sangat-sangat terlambat karena alasan tertentu yang tidak perlu saya ceritakan di sini (maluu). Saat itu saya tinggal di Jl. Sidakarya no. 15 Denpasar Selatan. Bersama sejumlah teman saya asal Timor Leste (sama-sama berstatus mahasiswa), kami menyewa sebuah rumah yang bagus untuk ukuran mahasiswa. Salah satu Anggota Parlamen Timor Leste, yang pernah mengunjungi rumah kami saat itu adalah Almarhum Bapak JACOB FERNANDES (yang meninggal, 2 bulan setelah dilantik menjadi Anggota Parlamen Timor Leste tahun 2007 (Beliau meninggal 22 September 2007).  

Salah satu teman kos saya (Ir. JOAQUIM DA COSTA FREITAS), adalah ASESSOR PERDANA MENTERI XANANA GUSMAO. Jika Anda penasaran ingin melihat bagaimana tampangnya, tinggal buka saja artikel; “ANTARA BALI & BALIBAR” (seri: 2) dan lihatlah temanku tersebut, yang duduk persis di belakang Bapak Xanana Gusmao yang dalam foto yang saya lampirkan di sana, terlihat Pak Xanana sedang “keringatan” karena mungkin sangat kepanasan.

Hari itu, begitu saya tiba di Kampus, praktikum ANATOMY sudah lama dimulai. Saat saya tiba di pintu Laboratorium ANATOMY, dari luar terdengar suara “Dokter M” (orangnya rada galak), sedang menerangkan materi praktikum ANATOMY. Tapi Dokter M yang saya maksudkan di sini bukan bokpanya salah satu teman angkatanku, dr. Thirta (saat ini telah menyandang status sebagai Ahli THT (Telinga Hidung & Tenggorokan). Karena Ayah temanku ini juga Dosen ANATOMY. Tapi Beliau ini, yang juga dipanggil Dokter M, pembawaannya cool. Gak pernah marah. Suka humor. Jika Anda memiliki account FB, klik saja: “MANGKU KARMAYA”. Maka Anda akan masuk ke account Beliau”. Orangnya sangat baik dan juga sangat kocak. Kalau lagi member kuliah, mahasiswa sangat senang, karena bawaannya yang penuh humor.

Karena saat itu saya sangat terlambat, maka setelah tiba di depan pintu dan begitu mendengar suara Dokter M yang rada galak, hati saya mulai dag dig dug tidak karuan. Saat itu saya ragu. “Masuk gak ya?” Tadinya saya sangat ragu untuk masuk. Maunya balik saja. Tapi mengingat saya akhirnya saya nekat saja. Apa yang akan terjadi, terjadilah. Maka saya memberanikan diri untuk masuk.

Bagitu saya masuk, saya menjadi pusat perhatian teman-teman dan juga dokter M. Salah satu temanku, yang saat ini berhasil menjadi seorang Dokter Spesialis Saraf (NEUROLOG), yaitu; dr. Acmad Ikhsan,Sp.S, menyodorkan bangku kecil yang masih kosong di sampaingnya kepada saya. Begitu bangku kecil itu saya duduki, langsung terdengar suara “Dokter M”.

“Kamu dari mana, tanya Beliau dengan mata agak melotot?” Tanpa pikir panjang saya langsung menjawab; “Saya dari Timor-Timur dok?” Jawabanku malah membuat teman-temanku tertawa. Saya heran, apa yang lucu dari jawaban saya. Rupanya saya salah faham. Yang dimaksud Dokter M bukan masalah asal-usul yang berbau primordialisme. Dokter M, dengan suara mulai meninggi, kembali bertanya; “Yang saya maksud bukan itu. Kamu habis dari mana, kok jam segini baru nongol. Mengapa kamu terlambat?”  
 
Saya diam sebentar, apa harus jujur mengaku bahwa saya baru saja mengalami bla...bla..bla..? Tapi akhirnya saya berubah pikiran. Dari pada menanggung RAMA (Rasa Malu), saya menjawab; Saya terlambat masuk karena saya bangun terlambat dok? Dokter M kembali bertanya; “Mengapa kamu bangun terlambat?” 

Saya menjawab; “Karena semalam saya tidur terlambat”. Dokter M terus mengejar saya dengan pertanyaan; “Kenapa tidur terlambat?” Saya menjawab; “Karena belajar sampai dini hari dok”. Dokter M kembali bertanya; “Apa yang kamu pelajari?”. Saya menjawab; “Bahan praktikum ANATOMY dok”. Kembali saya ditanya Dokter M; “Bahan praktikum apa yang kamu pelajari?” Tanpa berpikir panjang saya menjawab; “Tulang belulang manusia dok”. 

Begitu mendengar jawaban saya, Dokter M langsung membuka peti jenazah. Dan dari dalam peti, Dokter M mengeluarkan setumpukan tulang-belulang manusia dan diletakkan di atas meja yang ada di depan. Kemudian Dokter M meminta saya maju ke depan untuk mengidentifikasi, tulang-belulang apa sajakah yang diletakkan Beliau dengan secara menumpuk di atas meja? 

Saya berdiri dan mencoba melangkah maju, tapi rasanya tulang-tulang saya mau copot dari persendiannya, mungkin karena cemas tidak bisa mengidentifikasi tulang-tulang yang ditumpuk di atas meja, maka saya sudah pasti akan jadi bulan-bulanan Dokter M. 

Setelah tiba di depan, begitu saya amat-amati tulang-belulang tersebut, saya merasa kesulitan untuk mengidentifikasi tulang-belulang tersebut. Maklum, hari itu untuk pertama kalinya dalam hidup, saya melihat tulang manusia. Apalagi yang ditumpuk di atas meja, bukan tulang-tulang panjang seperti os tibia, os ulna, os femur, os humerus, os radius, os ulna, atau tulang-tulang seperti: os scapula, os clavicula dan seterusnya (maaf saya tidak bisa menerjemahkan nama tulang-tulang tersebut ke dalam Bahasa Indonesia karena saya merasa kesulitan. 

Jadi terpaksa saya menggunakan Bahasa Latin). Tapi yang ditumpuk di sana adalah tulang-tulang kecil, yang di kemudian hari saya kenal sebagai tulang-tulang CARPALIS (ruas tulang tapak tangan dan jari tangan). Pantas saja saya tidak bisa mengidentifikasi.

Karena saya hanya membolak-balik tulang-tulang tersebut, sambil berpura-pura berpikir keras, dan mungkin hari itu saya lagi apes, malah yang terjadi adalah AIR MATA saya terus mengalir menganak sungai. Dokter M mulai bersuara; “Katanya tadi malam belajar sampai dini hari. Sampai tidur terlambat. Kemudian bangun terlambat dan akibatnya masuk terlambat. Tapi kok ditanya tulang-tulang gituan aja gak tahu? Malah MENANGIS? Bikin malu orang Tim-Tim saja”

Padahal AIR MATAKU mengalir keluar bukan karena saya tidak bisa menjawab pertanyaan Dokter M, tapi karena sengatan FORMALIN yang begitu menyengat (maklum pertama kali masuk Laboratorium Anatomy), maka saya mencoba membela diri dan berkata. “Tulang-tulang ini terlalu kecil dok. Jadi saya tidak bisa menjawab. Karena yang semalam saya pelajari adalah tulang-tulang panjang. Lagian kalau tulang-tulang kecil ini ditanyakan kepada teman-temanku yang tidak terlambat, belum tentu mereka juga bisa menjawab. Kalau Dokter gak percaya coba saja”.

Dokter M seakan-akan merasa tertantang. Beliau berkata; “Kamu sudah tidak bisa menjawab, ngeles lagi. Kamu mau bukti. Saya akan buktikan bahwa teman-temanmu bisa menjawab karena tadi saya sudah menjelaskan semuanya kepada mereka”. Sambil berkata seperti itu, Dokter M meminta seorang temanku dengan inisial “JU” untuk maju. 

Tadinya saya merasa dag dig dug, kalau-kalau yang akan dipanggil ke depan kelas adalah teman-teman yang menjadi bintang di angkatan saya, antara lain seperti; “dr. Ratna Saraswati,Sp.PD dr. Darya,Sp.PD dr. Sumandi,Sp.PD (ketiganya saat ini sudah menjadi Spesialis Penyakit Dalam), atau dr. Ida Bagus Putu Alit,Sp.F (saat ini sudah menjadi Ahli Forensik RSUP Sanglah). Tapi yang dipanggil maju ke depan adalah, malah temanku, “JU” yang kemampuannya denganku hanya BETIS (beda-beda tipis). Orang bilang; SEBELAS – DUA BELAS lah.


Dalam hati saya bersorak. Pasti “JU” sulit mengidentifikasi tulang-tulang tersebut. Ternyata dugaan saya benar. Temanku “JU” merasa kesulitan untuk mengidentifikasi tulang-tulang tersebut. Saat itu, walau AIR MATA saya terus mengalir bagaikan ANAK SUNGAI, namun saya merasa di atas angin. Saya pura-pura menatap ke arah lain. Sayu berusaha mencari arah yang bisa membuat saya merasa nyaman untuk tersenyum. Akhirnya saya memilih menatap ke atas plafon sambil tersenyum, walau AIR MATAKU terus mengalir. Saya benar-benar berusaha untuk tidak melakukan “eye contact” dengan Dokter M.

Bersamaan dengan saya tersenyum simpul; dari dahi temanku “JU” mulai terlihat butiran-butiran bening (keringat dingin), Dokter M mulai bersuara; “Aahh sudah.... sudah... sudahh.... duduk.. duduk..!!! Kalian semua sama saja. Di luar sana bergaya, mengaku mahasiswa Kedokteran, tapi otak kalian isinya “T”.  Sambil kembali ke tempat duduk, saya memanfaatkan momen itu, sambil tersenyum saya bersuara; “Tadi sudah saya bilang. Dokter masih gak percaya. Sekarang terbukti khan”.

Begitu saya dan “JU” kembali duduk, praktikum hari itu pun berakhir. Dokter M bertanya; “Bagaimana, apa masih ada yang perlu ditanyakan berkaitan dengan praktikum hari ini? Dr. M mengajukan pertanyaan itu sambil pandangannya menyapu isi kelas tapi tanpa mau melakukan eye contact dengan saya. Padahal saya sedang pasang aksi menatap Beliau, kalau ada eye contact, saya maunya tersenyum kepada dr. M. Tapi Beliau menghindar tidak mau memandang wajah saya. Mungkin Beliau merasa eneq.

Pandanganku menyapu isi kelas. Karena tidak ada yang bertanya, maka tiba-tiba saja ada pertanyaan aneh terlintas di benakku. Saya sendiri merasa bahwa pertanyaan tersebut kurang lazim. Tapi saya nekat saja mengacungkan TANGAN KANANKU ke atas, dengan FORMASI, 4 jari tertekuk dan hanya JARI TELUNJUK teracung tegak lurus ke atas.

Begitu melihat TANGAN KANAN saya teracung ke atas, Dokter M menoleh ke arahku dan bertanya; “Ya BENYAMIN (padahal NAMAKU bukan dilafalkan dengan bunyi: BENYAMIN, tapi BENJAMIN), mau tanya apa?”  Saya bersuara; “Maaf Dok, pertanyaan saya mungkin kurang lazim. Mengapa satu tangan manusia, jumlah JARI-nya harus LIMA? Mengapa TUHAN tidak menciptakan manusia dengan JARI TANGAN yang jumlahnya EMPAT? Atau sekalian jumlahnya ENAM? Khan bisa digunakan untuk melakukan banyak hal?”

Mendengar pertanyaan saya, Dokter M bukannya menjawab, tapi malah melotot dan berkata; “Selama saya menjadi DOSEN ANATOMY, baru kali ini saya mendapat PERTANYAAN ANEH dari MAHASISWA KEDOKTERAN PALING ANEH yang pernah saya temui dalam hidup saya.”

Dokter M terlihat tersenyum, sambil melihat ke arah saya Beliau berujar; “BENYAMIN, kamu mau balas dendam ya? Gara-gara tadi saya suruh maju ke depan untuk mengidentifikasi tulang-tulang dan kamu tidak bisa mengidentifikasi tulang-tulang tadi, kemudian menangis dan sekarang BERULAH? Buat pertanyaan kok aneh-aneh.”

Saat itu, karena Dokter M (dan mungkin juga teman-temanku) mengira saya MENANGIS karena tidak bisa menjawab pertanyaan Dokter M, maka saya berusaha membela diri, “Tadi saya MENANGIS bukan karena saya tidak bisa menjawab pertanyaan Dokter. Tapi karena MATA saya tidak tahan dengan sengatan FORMALIN”.  Karena memang bau FORMALIN saat itu menyengat sekali. Apalagi saya belum terbiasa dengan sengatan FORMALIN. Tapi dokter M masih saja tidak percaya dan berkata; “BENYAMIN... BENYAMIN... ada saja alasanmu...!!!”


Akhirnya pertanyaan itu dibiarkan menggantung, tidak dijawab Dokter M. Karena kebetulan juga sudah waktunya pulang. Maka begitu keluar dari ruang Laboratorium ANATOMY, saat melintas di depan ruangan Prof. ELIAS SUKARDI, yang saat itu dalam keadaan terbuka, saya menoleh ke dalam, Prof. ELIAS sedang santai membaca koran. Maka saya memutuskan untuk masuk ke dalam dengan tujuan mau mengajukan pertanyaan yang saya sampaikan kepada Dokter M di Laboratorium ANATOMY.

Saya mengetuk pintu sambil mengucapkan “selamat siang”. Prof. ELIAS mempersilahkan saya masuk. Kemudian Beliau mempersilahkan saya duduk di sebuah KURSI yang ada depan Beliau. Di antara kami dipisahkan oleh meja kerja Prof. ELIAS. Saya kemudian menyampaikan maksud saya menemui Beliau.

Kemudian Prof. ELIAS berkata; “Ya, silahkan. Adik mau bertanya tentang apa?” Saya kembali mengajukan pertanyaan dengan formasi kalimat yang sama persis dengan yang saya sampaikan kepada Dokter M. Begitu mendengar pertanyaan saya, Prof. ELIAS langsung meletakkan koran yang masih ada di tangannya, dan merubah posisi duduknya, kemudian menatap ke arah saya.

Beliau diam beberapa detik sambil menatap saya kemudian berkata; “Nama adik siapa?” “BENJAMIN”, jawab saya. Kemudian Prof. ELIAS berkata; “Selama saya menjadi DOSEN ANATOMY dan menyandang status sebagai Ahli ANATOMY, baru pertama kalinya saya mendapatkan pertanyaan seperti ini dari seorang mahasiswa Kedokteran.  
 
Kemudian Prof. ELIS meneruskan; “Begini BENYAMIN (saya lalu koreksi, maaf dok, nama saya bukan BENYAMIN, tapi BENJAMIN, Beliau lalu memperbaiki pelafalannya dan meneruskan), pertanyaanmu rada terdengar aneh oleh kebanyakan orang. Karena pertanyaanmu bukan pertanyaan lazim yang harus diajukan oleh seorang mahasiswa Kedokteran, jika ditinjau dari MANFAAT pertanyaan itu untuk kepentingan seorang dokter. Tapi karena kamu sudah bertanya kepada saya, maka saya harus memberi jawaban. Inilah yang namanya proses belajar-mengajar. Jadi sebagai mahasiswa, kamu BERHAK bertanya apa saja, termasuk pertanyaan yang paling ekstrim sekalipun. Dan saya sebagai Pembimbing kamu, BERKEWAJIBAN memberikan bimbingan dalam taraf-taraf tertentu”.

Saya tetap diam sambil pasang expresi serius mendengarkan penjelasan Prof. ELIAS. Kemudian Beliau meneruskan; “BENYAMIN (maaf BENAJMIN, Beliau mencoba memperbaiki walau terdengar rada blepotan), untuk memahami segala sesuatu dalam hidup ini, jadi bukan hanya persoalan ANATOMY MANUSIA, kamu harus berpegang pada 3 elemen penting, yaitu; KONSEP, AZAS & FAKTA. Semua SUBSTANSI MATERI yang kamu INDERAI, yaitu kamu lihat, kamu dengar, kamu pegang/raba, kamu cium (baui) dan kamu cicipi, ada yang bisa dijelaskan berdasarkan KONSEP dan AZAS dari SUBSTANSI MATERI tersebut. Tapi ada yang tidak bisa kita jelaskan lebih jauh, kecuali kita hanya bisa menerimanya sebagai; FAKTA”.

Saya masih terus memasang mimik serius mendengarkan penjelasan Beliau. Kemudian Prof ELIAS sambil tetap memandang ke arah saya meneruskan; “Misalnya kalau kita berbicara tentang isu MOBIL, maka BENJAMIN (kali ini tidak Beliau tidak lagi salah melafalkan nama saya) harus memiliki KONSEP, AZAS dan FAKTA mengenai MOBIL”.

Tiba-tiba Prof. ELIAS bertanya; “BENJAMIN, menurutmu apa itu MOBIL?” Tanpa pikir panjang, saya menjawab; “MOBIL adalah salah satu sarana transportasi”.  Prof. ELIAS memuji’ “Bagus... Jadi kamu mendefenisikan MOBIL berdasarkan NILAI GUNA yang dimiliki MOBIL. 

Lalu Beliau meneruskan; “Kalau BENJAMIN memiliki defenisi tentang MOBIL berdasarkan NILAI GUNA, maka pertanyaan saya adalah; Apakah BENJAMIN akan tetap berpegang pada defenisi tersebut, kalau saya bertanya; Apa MOBIL yang dari segi body masih bagus, tapi tidak bisa digunakan sebagai sarana transportasi, apakah kamu masih akan tetap mengatakan itu MOBIL?” Tanpa berpikir panjang, saya langsung menjawab; “YA”.

Mendengar jawaban saya, Prof. ELIAS berkata; “Berarti defenisimu tentang MOBIL, sebenarnya bukan berdasarkan NILAI GUNA, melainkan berdasarkan BENTUKNYA. Maka pertanyaan saya adalah; “Apa KONSEP kamu mengenai sebuah MOBIL? Tanpa berpikir dua kali, saya langsung menjawab; “KONSEP saya tentang MOBIL adalah kendaraan RODA EMPAT”.

Mendengar jawaban saya, Prof. Elias tersenyum simpul. Melihat Beliau tersenyum simpul, saya bergumam dalam hati, “Ini pasti ada yang tidak beres dengan jawaban saya. Dalam hati saya mulai menyesal. Ngapain juga tadi nggak langsung pulang aja. Kenapa harus masuk ke sini cari penyakit”.
 
Prof. Elias kemudian meneruskan; “Kalau KONSEP BENJAMIN mengenai MOBIL adalah: kendaraan RODA EMPAT, apakah GEROBK DORONG yang RODANYA EMPAT, juga disebut MOBIL?”

Mendapatkan pertanyaan Beliau yang terakhir, tiba-tiba saja ruangan Beliau yang tadinya terasa sejuk, mulai berubah. Saya mulai merasa gerah. Ingin rasanya cepat-cepat berdiri keluar meninggalkan ruangan itu. Tapi gimana cara ngomongnya ke Prof. Elias kalau saat itu saya maunya pulang saja. 

Saya merasa hari itu adalah hari paling apes dalam hidupku. Setelah mendapat stigmatisasi dari Dokter M sebagai MAHASISWA KEDOKTERAN PALING ANEH, gara-gara mengajukan pertanyaan; Mengapa tangan manusia jarinya harus LIMA? Sekarang ditambah lagi dengan jadi bahan tertawaan Prof. ELIAS, gara-gara KONSEPKU mengenai MOBIL adalah; KENDARAAN RODA EMPAT. Lengkap sudah penderitaanku.
 
Melihat saya hanya diam saja dan mulai gelisah, Prof. ELIAS berkata; “Jadi mulai sekarang, membiasakan diri memiliki cara berpikir yang baik dan sistimatis. Karena hari ini contoh yang saya tampilkan untuk menjawab pertanyaanmu adalah MOBIL, maka BENJAMIN harus berpegang pada 3 elemen tadi, yaitu; Apa KONSEP tentang sebuah MOBIL? Apa AZAS tentang sebuah MOBIL? Dan apa FAKTA tentang sebuah MOBIL. Jadi kalau BENJAMIN ditanya orang; Apa itu KONSEP BENJAMIN tentang MANUSIA? Jangan BENJAMIN bilang; MANUSIA adalah mahluk BERKAKI DUA. Kalau begitu, AYAM juga adalah MANUSIA, karena FAKTANYA, kaki AYAM juga berjumlah DUA?”  

Sambil Prof. ELIAS menjelaskan, saya manggut-manggut berlagak mengerti. Kemudian Prof. ELIAS meneruskan; “Kita kembali kepada pertanyaanmu; Mengapa satu tangan MANUSIA jumlah JARI-nya harus LIMA? Bukan EMPAT atau ENAM? Tentang pertanyaanmu ini, sebagai manusia biasa, kita tidak bisa menjelaskannya lebih jauh. Tapi kita hanya bisa menerima ini sebagai FAKTA”.  

Kisah di atas adalah salah satu kenangan saya dengan Mendiang Prof. Elias Sukardi (salah satu Anggota Perkumpulan Ahli Anatomy Belanda). Ketika saya datang dari Dili Timor Leste untuk mengikuti tes masuk Program Pasca Sarjana UNUD pertengahan Mei 2011, saya masih sempat melihat Prof. Elias bersama Dokter M berjalan memasuki pintu gerbang kampus FK UNUD (Jl. PB Sudirman Denpasar Bali). 

Tapi hanya berselang 3 bulan, pada saat kembali dari Dili 4 September 2011 untuk melanjutkan kuliahku di Pasca Sarjana UNUD (kebetulan saya lulus tes, mungkin gara-gara komputernya salah program, kebetulan juga tes masuk Pasca Sarjana UNUD menggunakan pensil 2b), saya menemukan koran Bali Post yang memberitakan Prof. Elias telah berpulang ke hadapan Sang Khalik pada 1 September 2011. 

Prof. Elias adalah salah satu manusia besar yang pernah dimiliki FK UNUD. Salah satu mata kuliah di Fakultas Kedokteran yang menjadi momok bagi mahasiswa Kedokteran adalah NEURO ANATOMI. Prof. Elias menulis banyak buku tentang ANATOMY, khususnya tentang NEURO ANATOMY. Jika Anda yang membaca artikel ini seorang mahasiswa Kedokteran dan berjalan-jalan ke toko buku, coba carilah buku NEURO ANATOMY, karangan Prof. Elias Sukardi. Selamat jalan Professor berotak brilian. Amal bhaktimu akan selalu kami kenang sepanjang hayat. RIP...!!!

Saya masih memiliki sejumlah pengalaman tak terlupakan dengan Prof. Elias. Salah satunya adalah ketika saya bertanya kepada Beliau dengan pertanyaan; “Apakah jumlah ruas tulang belakang manusia yang jumlahnya 33, ada kaitannya dengan USIA PUTERA ALLAH (33 tahun) ketika di-SALIB-kan? Kapan-kapan jika ada waktu saya akan kembali berkisah. 


Saya akan berkisah mengenai "MISTERI BILANGAN 33", ini yang dikaitkan dengan USIA TUHAN YESUS saat di-SALIB-kan, ditambah dengan MISTERI AIR SUCI dari FATIMA PORTUGAL, dalam BOTOL dengan BILANGAN 33 dan RUAS TULANG BELAKANG manusia yang berjumlah 33. Saat masih mengemban tugas sebagai seorang dosen (ANATOMY), saya pernah mengajukan pertanyaan kepada mahasiswa 7 kelas paralel yang jumlahnya hampir 500 orang mahasiswa, yang di atas 99,99% beragama KATOLIK ROMA; "Berapa jumlah ruas tulang belakang manusia?" Karena tidak ada yang bisa menjawab, saya konversikan pertanyaan ini ke dalam varian pertanyaan lain dengan harapan mahasiswa bisa menjawabnya; "Berapa USIA TUHAN YESUS saat di-SALIB-kan?" 

Ternyata apa yang terjadi? Dari mahasiswa 7 kelas itu (hampir 500 orang), tidak ada satu pun mahasiswa yang tahu; "Berapa usia Putera ALLAH saat di-SALIB-kan?" Kenyataan ini benar-benar memprihatinkan, walau tidak bisa dikatakan memalukan. Apalagi terjadi di sebuah negara yang konon, populasi penduduknya, di atas 99% mengaku beragama: KATOLIK ROMA. Ini harus terjadi karena salah siapa? Orang tua? Catequista (Guru Agama)? Guru pendidikan formal? Para Dosen? Atau Para Pastor? 

Mungkin muncul pertanyaan di benak Anda. Mengapa saya harus menuliskan namaku BENJAMIN dengan huruf kapital? Apakah saya MANUSIA NARCIS? Jawabannya sederhana saja. Ini ada kaitannya dengan peristiwa aneh yang dialami Parlamen Nasional Timor Leste. 

Pada tahun 2007, ketika Parlamen Nasional akan memulai masa tugas mereka, salah satu Anggota Parlamen Nasional dari Partai FRETILIN, bernama YAKUB (JACOB) meninggal. Pada tahun 2012 ini, lagi-lagi terjadi hal yang sama. Pada saat Parlamen Nasional yang baru, akan memulai menjalani amanah mereka, kembali salah satu Anggota Parlamen dari PD (Partai Demokrat), bernama; YAKUB (JACOB) meninggal hanya beberapa jam setelah Parlamen Nasional Timor Leste dilantik.    

Mengapa kedua Anggota Parlamen Nasional yang meninggal, harus sama-sama bernama: YAKUB (JACOB? Mengapa bukan NAMA yang lain? Mengapa harus meninggal pada saat Parlamen Nasional akan memulai mengemban amanah mereka? Mengapa tidak meninggal di saat Parlamen mengakhiri masa tugas mereka? Mungkinkah dua peristiwa ini terjadi karena berlakunya teori co-insidensi?” 

Bukankah setiap hal dalam hidup ini, terjadi karena ada alasannya? Lalu apa hubungannya dengan NAMA ku: BENJAMIN? Belum saatnya membahas isu ini. Tapi akan saya bahas pada kesempatan mendatang, melalui artikel yang berbeda. 

Sementara ini, berkaitan dengan isu ini, jika Anda memiliki waktu yang cukup, silahkan membaca artikel yang berkaitan dengan isu kematian dua Anggota Parlamen Nasional Timor Leste dan hubungannya dengan sejumlah isu dalam Konstitusi Timor Leste yang menurutku; “BERMASALAH”, yang telah secara singkat saya singgung dan telah diterbitkan di situs ini. Menurutku; melakukan amandamen Konstitusi Timor Leste, HUKUMNYA WAJIB. 
 
Tujuan amandamen bukan untuk mencegah agar pada saat-saat mendatang tidak boleh lagi ada Anggota Parlamen Nasional yang meninggal (karena toh semua orang, cepat atau lambat pasti akan meninggal), melainkan saya tertarik untuk membahas isu ini karena saya menemukan SEBUAH PESAN RAHASIA di balik kematian kedua tokoh, yang waktunya (momennya) sangat tidak lazim. 

“Mengapa kedua Anggota Parlamen Nasional dengan NAMA yang sama (YAKUB) harus meninggal tepat pada saat Parlamen Nasional akan memulai masa tugasnya?” Apakah sekadar karena faktor kebetulan? Hanya orang-orang yang malas berpikir yang menjawabnya: YA.

Terima-kasih banyak karena Anda telah meluangkan waktu dan energi Anda untuk membaca artikel ini. Semoga ALLAH memberkati Anda dan Keluarga.

“Bangsa yang bijak adalah bangsa yang mau belajar dari sejarah.
Bukan hanya belajar tentang sejarah”

(Romo Martinho Gusmao Da Silva,Pr)

No comments:

Post a Comment