Saturday, August 11, 2012

SI TANGAN SABAT: "Entitas Real Atau Sebuah Utopia? (seri: 2)



Presiden & Perdana Menteri TL Tidak Akan Memimpin 5 Tahun Jika Si Tangan Sabat Benar-Benar Ada 


Pada kesempatan kali ini saya tampilkan kembali artikel berjudul: MPS (MISTERI PENAMPAKAN SION), yang berisi peristiwa misteri yang saya alami pada Februari 1994 (18 tahun yang lalu), yang sudah pernah beberapa kali dipublikasikan, baik melalui FB maupun melalui situs lama (rosapy).

Apakah SI TANGAN SABAT itu benar-benar ada dan exist sebagai sebuah "entitas" yang real? Atau SI TANGAN SABAT hanyalah hasil sebuah utopia dari seorang penulis?

Salah satu referensi yang amat penting menjadi dasar keyakinan saya, bahwa SI TANGAN SABAT itu memang benar-benar ada dan exist, bukan karena sebuah utopia, karena berdasarkan "pengalaman aneh" yang saya alami sendiri yang terjadi pada bulan Februari tahun 1994, sebagaimana dapat Anda baca dalam kisah aneh di bawah ini. Bagi yang sudah pernah membaca kisah misteri di bawah, boleh di-skip saja.

 MPS (MISTERI PENAMPAKAN SION), FEBRUARI 1994

Pada Februari 1994, saya sedang menjalani koskap (praktek sebagai dokter muda) di Lab Anasthesi RSUP Sanglah Denpasar. Pada 3 Februari 1994, dini hari, saya memperoleh mimpi yang sangat aneh. Saat itu saya diminta dr. Alex Suranadi, yang waktu itu (1994) masih berstatus Residen Anesthesi, untuk melakukan observasi ketat terhadap pasien (pria paruh baya) asal Perancis yang masuk RSUP Sanglah pada 2 Februari 1994, karena menderita peritonitis acut.

Pada 2 Februari 1994, sebenarnya bukan jadwal jaga saya. Tapi oleh dr Suranadi (saat ini dikenal sebagai salah satu Ahli Anesthesi brilian RSUP Sanglah/Staf Pengajar Anesrhesi FK UNUD), saya diminta tukaran jaga dengan dokter muda yang lain, karena pasien Perancis tersebut hanya bisa berhasa Perancis campur Inggris dan Portugis.

Hari itu, setelah selesai operasi (laparatomy), pasien dipindahkan dari OK ke ruang HCU. Menjelang tengah malam pasien itu masih terus berteriak-teriak. Maka saya menelpon dr. Suranadi. Dr. Suranadi bersama dr. Sahadewa, (kakak tingkat saya/Angkatan Trochanter 1987/saat ini sudah Sp.OG/Beliau seangkatan dengan senior saya dr. Joao Soares Martins,PhD,MPH/Dekan Kedokteran UNTL saat ini), mendatangi ruang HCU. Lalu saya dan dr. Sahadewa membantu dr. Suranadi menyuntikkan morphin, dengan cara langsung dimasukkan lewat saraf tulang belakang.

Setelah disuntikkan morphin, pasien tersebut tidur tenang. Karena saya hanya diminta untuk mengobservasi pasien tersebut, maka begitu pasien tersebut tertidur, saya juga ikut-ikutan tidur. Dalam tidur itulah saya memperoleh mimpi yang sangat aneh.

Dalam mimpiku dini hari, 3 Februari 1994, muncul dua Malaikat bersama sejumlah orang Suci. Dalam mimpi malam itu, dua Malaikat tersebut meminta saya harus pergi ke Bukit Sion, yang terletak di lereng Gunung Ramelau Timor Leste. Kata 2 Malaikat itu dalam mimpi, bahwa salah satu (tapi bukan satu-satunya) tujuan saya dipanggil ALLAH ke Bukit Sion adalah untuk mengikuti apa yang disebut sebagai: SPP (Serimoni Pergantian Peradaban), dan di sana sekaligus ALLAH hendak memberkati program Catur Mobilisai (sebuah program yang saya canangkan ketika saya menjalani fungsi sebagai Ketua Umum IMPETTU Bali Periode 1993-1998).

Saat itu dalam mimpi, saya berusaha keras menolak. Banyak alasan yang saya sampaikan kepada dua Malaikat itu. Saya tidak mau pergi ke Bukit Sion, karena selain jauh, juga jalur menuju Bukit Sion yang terletak jauh di hutan belantara, lereng Gunung Ramelau Timor Leste, penuh dengan anggota Falintil (Pasukan Gerilya Pro Kemerdekaan Timor Leste) dan Pasukan TNI anti gerilya. Maka pergi ke Bukit Sion, sama saja dengan mengantarkan nyawa untuk diserahkan ke mulut serigala.

Tapi karena dua Malaikat itu mengatakan yang memanggil saya ke Bukti Sion adalah ALLAH, maka diliputi oleh "rasa takut" yang mendalam, saya harus memenuhi permintaan 2 Malaikat itu. Apalagi salah tujuan saya dipanggil ALLAH ke Bukit Sion adalah karena ALLAH berkenan memberkati program Catur Mobilisasi. Kebetulan saat itu, setelah terpilih secara resmi sebagai Ketua Umum IMPETTU Bali (pada Minggu, 18 April 1993), Pembina IMPETTU Bali tidak bersedia melantik saya, karena alasan-alasan tertentu yang tidak perlu saya uraikan di sini. Sebagian dialog yang terjadi dalam mimpi 3 Februari 1994, adalah sebagai-berikut;

Ketika diminta ke Bukit Sion, pertama saya bilang; “Tidak punya uang untuk naik pesawat Denpasar-Dili”. Dua Malaikat itu menjawab; “Akan ada orang dari Timor Leste yang memberi kamu uang”. Saya mencoba kembali berkelit. “Tapi saat ini saya sedang sibuk”. Kedua Malaikat itu, sambil disaksikan sejumlah orang kudus bertanya; “Kamu sibuk melakukan apa?” Saya menjawab; “Saya sedang sibuk menjalani koskap (praktek sebagai dokter muda)”. Lalu kedua Malaikat kembali bertanya; “Kamu sibuk menjalani koskap untuk apa?’ Saya menjawab; “Karena saya ingin menjadi dokter”. Lagi-lagi saya ditanya; “Mengapa kamu ingin menjadi dokter?” Dengan lantangnya saya menjawab; “Karena saya ingin menyelamatkan jiwa manusia”.

Mendengar jawaban saya, kedua Malaikat tersenyum seakan-akan mengejek saya. Senyuman dua Malaikat ini menimbulkan tanda tanya. Apa yang salah dari jawaban saya? Mungkinkah saya terlalu sombong karena mengatakan; “Saya mau menjadi dokter karena menurutku dokter bisa menyelamatkan jiwa manusia?” Tapi kalau dipikir-pikir, yang mampu menyelamatkan jiwa manusia hanyalah ALLAH. Bukan dokter. Dokter hanya mencoba mengobati pasien semampunya. Malam itu, setelah saya memberikan jawaban bahwa saya ingin menjadi dokter untuk menyelamatkan jiwa manusia, kedua Malaikat kembali bertanya; "Mampukah manusia menyelamatkan jiwa manusia?  Mendapat pertanyaan itu, saya hanya menunduk diam membisu (seakan mati kutu).



Akhirnya setelah mimpi itu, pada 7 Februari 1994, di Swalayan Tiara Dewata Denpasar, saya tidak sengaja bertemu Alamrhum Manuel Viegas Carracalao (adik mantan Gubernur TimTim/Ir. Mario Viegas Carrascalao), yang hari itu bersama istrinya (wanita asli Indonesia) sedang berbelanja di sana dan memberi saya sejumlah uang, persis seperti kata Malaikat dalam mimpi. Rupanya Bapak Manuel Carrascalao, saat itu mewakili DPRD Tim-Tim hadir di Bali karena diundang Kodam IX Udayana untuk ikut menghadiri hajatan milik Kodam IX Udayana.

Hari itu, 7 Februari 1994, saya bersama 2 teman saya lainnya, yaitu; dr. Artur Corte Real,Sp.D (alumnus FK UNUD yang mendapatkan gelar Spesialis Penyakit Dalam dari Universitas St. Tomas Filipina/saat ini sedang melanjutkan studi di FK UI, mengambil Sub Cardiologi), dan Sdr. Tadeu Francisco de Araujo (alumnus FE UNDIKNAS/mantan Ketua II IMPETTU Bali)/periode 1993-1998), diberi sejumlah uang oleh Bapak Manuel Carrascalao.

Bermodalkan uang pemberian Bapak Manuel Carrascalao, saya langsung booking tiket pesawat pada 7 Februari 1994. Pada 8 Februari 1994, saya menuju Dili. Pada 14 Februari 1994, saya menuju Atsabe. Sekadar informasi, kota Atsabe adalah sebuah kota kecil, yang terletak sekitar 95 KM sebelah barat daya kota Dili. Di kota inilah Presiden Timor Leste saat ini, Prof. Em. Jose Manuel Ramos Horta, tumbuh dan berkembang. Dulu, jaman Portugis, ayah Beliau, Manuel Horta, menjabat sebagai Admnistrador Kecamatan Atsabe.

Juga di kota inilah lahir salah satu “Bangsawan Timor Leste”, yang ikut menanda-tangani Declarasi Balibo, yaitu Raja Guilherme Maria Goncalves (mantan Gubernur Tim-Tim kedua). Wilayah Kecamatan Atsabe adalah satu-satunya wilayah di Timor Leste yang dikenal sebagai; Daerah Bali. Mengapa dijuluki demikian? Belum saatnya untuk dibahas di sini. Barang kali karena Atsabe dijuluki sebagai “Daerah Bali” itulah, saya yang kebetulan kelahiran Atsabe betah tinggal di Bali hingga saat ini.

Setelah berada di kota Atsabe, pada 17 Februari 1994, saya dan serombongan pria mencoba berangkat ke Bukit Sion. Tapi hari itu jalur yang akan kami lalui sedang terjadi kontak senjata antara TNI dan Falintil. Terjadi kejar-kejaran antara TNI dan Falintil. Hari itu salah satu anggota Falintil bernama Pedro, ibu jarinya putus terkena tembakan TNI. Saat ini yang bersangkutan masih hidup.

Gara-gara kontak senjata pada 17 Februari 1994, kami lari kocar-kacir, kembali ke Atsabe. Orang-orang yang sebelumnya sudah bersedia mendampingi saya ke Bukit Sion, mengurungkan niat mereka. Mereka menyarankan, sebaiknya kepergian ke Bukit Sion dibatalkan saja, karena sedang tidak aman. Mereka pada ketakutan karena trauma. Akhirnya malam itu saya datang berdoa di Gereja St. Yoseph di kota Atsabe. Saya berdoa di sana lama sekali hingga tengah malam. Dalam keadaan trance, St. Yoseph menampakkan diri dan berjanji akan mengirimkan seekor anjing untuk membimbing saya menuju Bukit Sion. Malam itu saya tertidur di dalam Gereja St. Yoseph. Dinginnya minta ampun. Rasanya tulang ini mau patah.

Sekadar info untuk diketahui, Gereja Atsabe Pelindungnya (Padroeira) adalah Santo Yoseph, karena konon, pada abad pertengahan St. Yoseph pernah menampakkan diri di sebuah bukit bernama Sosara yang terletak di Desa Laklo Kecamatan Atsabe.

Nama depan Presiden Timor Leste saat ini, Jose, (Manuel Ramos Horta), diadopsi dari nama Paroki Santo Yoseph Kecamatan Atsabe. Presiden Timor Leste; Prof. Em. Jose Manuel Ramos Horta, dibaptis di Gereja Sao Jose (baca: Saung Juze).

Pada 18 Februari 1994, pagi-pagi sekali, saya menemukan anjing gaib berbulu putih bersih, yang dijanjikan St. Yoseph di kuburan yang tidak jauh dari Gereja St. Yoseph. Saya mencapai Bukit Sion, atas panduan anjing gaib kiriman St. Yoseph. Saya berada di Bukit Sion selama 3 hari (18, 19 & 20 Februari). Pada Minggu petang, 20 Februari 1994, saya kembali ke kota Atsabe. Saya tiba di kota Atsabe sudah tengah malam (bahkan mungkin sudah dini hari/ saya tidak menggunakan arloji), tapi tanpa anjing gaib kiriman St. Yoseph.

Selama 3 hari (18, 19 & 20 Februari 1994) saya berada sendirian di Bukit Sion, dan mengikuti berbagai acara. Saat itu saya merasa seakan-akan berada di Surga dan mengikuti berbagai acara yang diselenggarakan di dalam Surga. Saya belum bisa menceritakan, secara lengakap dan detail mengenai substansi materi yang dibahas di Bukit Sion selama 3 hari tersebut. Mungkin saya akan menuliskannya dalam sebuah buku tersendiri. Tapi sekadar kronologis perjalanan dan keberadaan saya selama 3 hari di Bukit Sion dapat saya ceritakan sebagai-berikut;

Perjalanan menuju Bukit Sion saat itu benar-benar menguras tenaga dan pikiran saya. Melakukan perjalanan dalam situasi damai tentu memiliki dampak psikologis yang berbeda jauh jika dibandingkan melakukan perjalanan penuh ketegangan di wilayah perang di mana desiran peluru dua kekuatan yang sedang bertikai, setiap saat bisa mencabut nyawa kita.

Jika saat itu saya berpapasan dengan Gerilyawan Pro Kemerdekaan Timor Leste, kemungkinan besar saya dibunuh. Demikian pula jika saya bertemu Pasukan TNI (anti gerilya) yang dilepas hidup di hutan belantara (yang performa fisiknya sulit dibedakan dengan tentara gerilya), juga kemunkinan saya dibunuh. Dan mati dalam situasi perang, tidak ada fihak yang harus dituntut untuk bertanggung-jawab. Hanya bermodalkan iman, saya bisa mencapai Bukit Sion.

Salah satu kesulitan terbesar yang saya hadapi dalam perjalanan menuju Bukit Sion, adalah sulitnya medan. Semakin mendekati Bukit Sion, sepanjang sekian kilometer penuh dengan batu-batuan yang runcing. Saya harus melewati tebing bebatuan yang curamnya mendekati 90º, dengan cara merangkak seperti anjing.

Sebelum mencapai tempat yang dimaksud, saya dan anjing gaib itu disambut puluhan bahkan ratusan ekor kera. Saya mencoba menghitung jumlah kawanan kera yang bermunculan saat itu. Ketika hitungan saya mencapai bilangan 50, kera-kera itu malah semakin banyak bermunculan. Akhirnya saya menghentikan hitungan saya. Anehnya pemimpin kawanan kera itu ekornya buntung.

Saya terus mengiktui ke mana anjing gaib itu melangkah sambil digiring ratusan kera dari belakang. Akhirnya saya mencapai tempat yang dimaksud berkat bimbingan anjing gaib kiriman Santo Yoseph. Anjing gaib itu membawa saya menuju sebuah gua yang bentuknya aneh. Saya dan anjing gaib itu tiba di gua tersebut petang hari. Mulut gua itu sangat gelap dan hitam, persis mulut mahluk raksasa yang sedang menganga di permukaan bumi. Di depan mulut gua besar tersebut terdapat sebuah batu aneh yang bentuknya persis KURSI. Saya menamakannya : ”BATU KURSI”.

Posisi BATU KURSI tepat berhadapan dengan mulut gua. Saya kemudian duduk di atas “batu kursi” aneh itu. Rasanya seperti duduk di atas sebuah “kursi kebesaran”. Tujuan saya duduk di atas kursi kebesaran itu, dengan maksud untuk mencoba istirahat memulihkan tenaga. Karena saya merasa begitu sangat kelelahan. Saya tidak tahu apakah saya tertidur atau tidak. Tapi rasanya tidak lebih dari 5 menit, begitu saya membuka mata saya, situasi telah berubah drastis.

Saya bukan lagi sedang duduk di atas sebuah “batu kursi” di depan mulut gua yang hitam gelap. Tapi saya telah berada di dalam sebuah kota (mungkinkah itu kota TUHAN?) yang penuh dengan bangunan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Wilayah itu penuh dengan rumah-rumah yang terbuat dari batu kristal atau batu permata, yang memancarkan warna-warna pelangi.

Di saat saya sedang mengagumi berbagai bentuk bangunan rumah yang sangat menakjubkan, yang tidak akan mungkin ditemukan di dunia nyata, tiba-tiba ada sebuah mobil aneh yang sangat mewah muncul dari jarak sekitar 100 meter menuju ke arah saya. Kemudian mobil itu berhenti tepat di depanku. Dari dalam mobil keluar dua Malaikat. Saya menyebut mereka Malaikat karena bersayap. Ternyata saya mengenali kedua Malaikat itu. Keduanya yang telah muncul dalam mimpiku pada tanggal 3 Februari 1994.

Kedua Malaikat lalu menyapa saya menggunakan Bahasa Portugis; “Boa tarde. Bemvindo”. Artinya; “Selamat sore. Selamat datang”. Itu adalah rangkaian “4 kata pertama” yang diucapkan bersamaan dari mulut kedua Malaikat ALLAH yang tampak penuh kemuliaan. Kemudian kedua Malaikat mempersilahkan saya naik ke mobil aneh tersebut. Malaikat yang satu duduk di belakang mobil. Saya dan Malaikat yang satu lagi, yang bertindak sebagai supir, duduk di depan. Mobil itu sama sekali tidak mengeluarkan bunyi apapun. Kami bertiga melewati tempat-tempat aneh dengan bangunan-bangunan rumah yang amat menakjubkan.

Dan yang juga menakjubkan, selama dalam perjalanan, saya hanya melihat orang-orang yang tidak satupun berwajah jelek. Seakan-akan di tempat itu tidak ada manusia berwajah jelek. Kami bertiga tiba di sebuah rumah besar yang sangat mewah, bagaikan istana yang amat sangat megah. Setelah mobil berhenti, saya diminta turun. Dan saya bersama Malaikat yang duduk di belakang memasuki pintu gerbang rumah mewah tersebut. Sementara Malaikat yang satu lagi tetap berada dalam mobil.

Kami disambut seorang suster, berwajah caukaosid, bermata biru. Suster itu memberikan ucapan selamat datang seperti yang diucapkan dua Malaikat sebelumnya. Kemudian Malaikat yang mengantarkan saya ke dalam, mengatakan kepada suster tersebut, bahwa orang “yang dipanggil” telah datang. Lalu Suster itu mengatakan; “Amo sira hein hela ita”. Kalimat ini (Bahasa Tetum) kalau diterjemahkan, artinya; “Para Imam sedang menunggu anda”. Rupanya saya sedang ditunggu para Pastor.

Akhirnya saya dan Malaikat itu keluar dari rumah mewah itu kembali ke mobil. Kami bertiga meneruskan perjalanan menuju sebuah bangunan mewah. Tiba di sana saya diminta turun dan memasuki bangunan tersebut. Begitu saya masuk ke dalam, saya merasa seakan-akan memasuki sebuah auditorium (tempat pertemuan) berukuran raksasa.

Ternyata di dalam ruangan auditorium raksasa tersebut, telah berkumpul ribuan Pastor, yang tidak bisa saya hitung. Saya diterima seorang Pastor berwajah caukasoid dan diantar ke sebuah deretan kursi paling depan yang ditempati oleh sekelompok Pastor yang semuanya berjubah HIJAU. Setelah saya duduk, kemudian muncullah dari atas panggung yang ada di depan kami, seorang Pastor yang seakan bertindak sebagai MC (Master of Ceremony/Pembawa Acara), untuk membuka acara pertemuan tersebut. Lalu setiap Imam yang mewakili kelompok masing-masing (semacam Ordo) maju ke depan untuk mempresentasikan banyak isu. Tidak perlu saya kemukakan isu-isu itu di sini karena isu-isu itu menyangkut hal-hal yang amat krusial dan sangat sensitif. Saat itu saya seakan-akan hadir di tempat itu sebagai peninjau (lebih tepatnya pendengar) untuk mendengarkan isu-isu yang dibahas.

Setelah presentasi dari setiap kelompok selesdai, diteruskan dengan session diskusi (tanya jawab). Beragam isu diangkat. Pendek kata, diskusi itu berlangsung sangat lama. Setelah pertemuan itu berakhir, saya diantar seorang Pastor keluar ruangan. Rupanya kedua Malaikat yang menjemput saya sedang menunggu di luar. Lalu saya diantar kedua Malaikat menuju sebuah istana mewah.

Di sana saya diterima seorang Pastor, yang lagi-lagi berwajah bule. Kemudian Pastor ini membawa saya memasuki sebuah wilayah, yang sepertinya wilayah itu adalah semacam Purgatori (Api Penyucian). Saya hentikan dulu kisah perjalanan saya diantar Pastor ini ke kawasan Api Penyucian. Akan saya teruskan pada lain waktu.

Setelah pulang dari kawasan Purgatori (Api Penyucian), saya kembali dijemput dua Malaikat yang menjemput saya pada hari pertama saya tiba di Bukit Sion. Saya naik mobil yang sama dan diantar ke sebuah tempat yang agak jauh dari rumah di mana saya dijemput. Tempat itu bentuknya seperti sebuah lapangan raksasa yang penuh dengan lautan manusia. Kesan saat saya melihat lautan manusia yang ada di lapangan raksasa itu, jumlahnya bermiliyar-milyar manusia. Saya tidak melihat ujung dari milyaran manusia yang ada di lapangan raksasa tersebut.

Begitu kami bertiga tiba di sana, ternyata lautan manusia saat itu sedang mengarahkan pandangan mereka ke atas sebuah panggung yang amat megah, di mana terdapat mendiang Bapa Suci, Paus Yohanes Paulus II bersama sejumlah “Calon Paus”, (saya dilarang menyebutkan jumlahnya). Saya diminta Malaikat turun dari mobil dan diminta naik ke atas panggung di mana sekumpulan “Calon Paus” dan mendiang Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II telah menunggu. Begitu saya tiba di atas panggung, saya disambut (disalami) mendiang Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II.

Mendiang Paus Yohanes Paulus II menggunakan jubah warna merah, yang dihiasi dengan asesori (semacam pernik-pernik) berwarna keemasan. Kemudian mendiang Paus berbicara dengan saya lama sekali (menggunakan Bahasa Tetum yang sudah berasimilasi dengan Bahasa Portugis). Saat mendiang Bapa Suci berbicara dengan saya, disaksikan oleh para “Calon Paus”, yang duduk dideretan kursi sebelah barat. Mereka (para Calon Paus) mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan mendiang Bapa Suci kepada saya. Isi pembicaraan mendiang Bapa Suci yang disampaikan kepada saya, tidak akan saya ceritakan di sini. Karena sangat amat rahasia. Setelah selesai menyampaikan semuanya, saya bersama mendiang Bapa Suci, Paus Yohanes Paulus II, berdiri dalam satu barisan (bersap, jadi bukan barisan berbanjar) dengan sejumlah “Calon Paus” yang akan muncul untuk menggantikan mendiang Paus Yohanes Paulus II.

Termasuk Bapa Suci Paus Benedictus XVI (Paus sekarang) juga saya lihat terdapat dalam barisan. Di belakang kami, terdapat lautan manusia. Jumlahnya seakan-akan bermiliyar-miliyar manusia yang sedang menyaksikan kami. Lalu mendiang Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II memberikan pengumuman (dalam Bahasa Tetum), dengan berkata begini; “Sekarang semuanya bersiap-siap, karena Takhta ALLAH akan segera terbuka, dan ALLAH akan menampakkan diri untuk mengumumkan segala sesuatunya mengenai isu-isu penting termasuk peristiwa-peristiwa penting yang akan terjadi di masa depan.

Setelah Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II berkata demikian, tidak berselang lama, sekitar 5 menit, tiba-tiba langit bergemuruh. Tempat di mana kami berdiri berguncang sangat hebat. Kami semua tidak mampu bertahan untuk tetap berdiri. Semua orang yang ada di tempat itu, termasuk para Calon Paus dan mendiang Bapa Suci, jatuh tersungkur ke tempat kaki berpijak. Lalu langit terbuka. Muncul Takhta ALLAH dengan sinar yang amat menyilaukan mata. Kami mencoba melihat ke atas. Tapi sulit sekali. Lalu terdengarlah suara ALLAH yang menggelegar bagaikan desau air bah. Setelah beberapa saat berselang, saya mencoba melihat ke atas, dan saya saat itu saya sempat melihat ALLAH berbicara sambil mengacungkan Tangan Kanan-Nya.

ALLAH berkotbah tentang banyak hal. Di antaranya, ALLAH berkotbah tentang evolusi peradaban manusia di masa depan. Termasuk nasib “Tahkta Suci Kepausan”.

Setelah selesai berkotbah dari atas Takhta-Nya, ALLAH memberikan kesempatan kepada mendiang Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II, untuk mengajukan pertanyaan. Saat itu mendiang Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II mengajukan ribuan pertanyaan kepada ALLAH. Setiap pertanyaan mendiang Bapa Suci (yang pernah mengunjungi Indonesia pada Oktober 1989), dijawab ALLAH dengan cara menampilkan jawaban-Nya secara visualisasi dari atas langit. Jadi setiap pertanyaan mendiang Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II, yang membutuhkan visualisasi, ALLAH selalu menampilkannya dari atas langit. Saat itu kami bisa menyaksikannya layaknya menonton film lewat layar raksasa.

Saat itu ALLAH menjelaskan banyak isu penting yang belum saatnya saya singgung melalui naskah ini. Jadi saya hanya menyampaikan yang pantas dulu untuk diketahui saat ini. Termasuk di antaranya adalah bencana besar yang akan menimpa planet bumi.  Saat itu ALLAH menampilkan visualisasi badai raksasa dari atas langit, sambil menjelaskan segala sesuatunya mengenai “badai raksasa” itu dengan suara-Nya yang menggelegar bagaikan desau air bah. Kami menonton badai raksasa itu bagai menonton film lewat layar raksasa di atas langit.

Analog yang mendekati adalah persis Anda menonton siaran langsung sepak bola, sambil mendengarkan Sang Komentator menjelaskan jalannya pertandingan. Badai itu amat mengerikan. Seakan-akan tata surya runtuh. Gunung-gunung saling tabrakan kemudian hilang lenyap. Jutaan manusia hanyut oleh gelombang air laut yang mengerikan.

Yang juga amat mengerikan, ALLAH sengaja menampilkan lautan manusia berjubah putih, (pria dan wanita) yang ikut hilang lenyap. Visualisasi “badai raksasa” yang ditampilkan ALLAH dari atas langit Bukit Sion, ribuan kali lebih mengerikan dari badai yang divisualisasikan dalam film “2012”, arahan Sutradara Roland Emmerich.

Saking mengerikannya “badai raksasa” yang diperlihatkan ALLAH dari atas langit Bukit Sion, mendiang Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II (yang pernah mengunjungi Dili pada Kamis 12 Oktober 1989), mengajukan pertanyaan; “Kapan badai raksasa itu akan menimpa planet bumi?” Jawaban ALLAH terhadap pertanyaan mendiang Bapa Suci tersebut di atas, belum saatnya saya uraikan pada saat ini.

Harap dicatat, saya tidak mengatakan dunia akan kiamat pada tahun 2012-2013. Tapi saya mau bilang sesuatu yang amat penting akan terjadi pada saat-saat mendatang jika ALLAh tidak merubah Pikiran-Nya. Poinnya adalah bahwa “2012-2013 adalah sebuah misteri besar”. Dan misteri besar itu hanya dapat diungkap dengan menggunakan “BAHASA INDONESIA". Maka Bangsa Timor Leste sebaiknya jangan sampai mengabaikan BAHASA INDONESIA. Karena yang namanya bahasa, bukanlah ciptaan manusia. Bahasa itu karya ROH KUDUS. Maka mendeskritkan BAHASA MELAYU-INDONESIA, sama saja dengan mendeskritkan karya ROH KUDUS.

Dalam sejumlah naskah saya yang telah beredar antara 2005 – 2009 (ada lebih dari 30 naskah), saya selalu menyampaikan pesan kepada Pemimpin Negara Timor Leste, untuk melakukan amandemen Konstitusi Timor Leste, guna menaikkan status Bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi, agar kedudukan Bahasa Indonesia di dalam Konstitusi Timor Leste, sama dan paralel dengan Bahasa Portugis. Tapi nampaknya proposal saya sama sekali diabaikan.

Kisah misteri yang saya alami selama 3 hari (18, 19 dan 20 Februari 1994), di Bukit Sion, lereng Gunung Ramelau Timor Leste, di mana ALLAH (BAPA) berbicara dari atas langit, sambil mengacungkan “tangan kanan-Nya” inilah, yang saya namakan; MPS (Misteri Penampakan Sion). Yang saya maksudkan ALLAH (BAPA) menampakkan diri, bukan berarti ALLAH (BAPA) memperlihatkan wajah-Nya kepadaku.

Wajah BAPA tidak mungkin terlihat dalam wujud apapun. Yang saya alami pada Februari 1994 adalah saya mendengar sebuah suara yang menggelegar bagaikan desau air bah dan pada saat yang bersamaan saya melihat sebuah tangan raksasa yang teracung dari balik Takhta yang sangat tinggi di atas Langit Bukit Sion. Karena itulah saya merangkainya menjadi sebuah (konstruksi) kalimat berbunyi; “ALLAH (BAPA) berbicara dari atas Takhta-Nya dengan suara-Nya yang menggelegar bagaikan desau air bah, sambil mengacungkan Tangan Kanan-Nya”.

Lanjutan mengenai kisah MPS (Misteri Penampakan Sion) akan saya teruskan pada kesempatan lain. Di antaranya, saat seorang Pastor (berwajah bule bermata biru) membawa saya memeriksa para “arwah” yang gugur selama perang berlangsung di Timor Leste, di mana para “arwah” tersebut belum bisa memasuki Kerajaan Surga, karena mereka belum memiliki nama dalam Kitab Kehidupan Abadi.

Akhirnya saya tiba kembali di kota Atsabe pada tengah malam (Minggu, 20 Februari 1994), tanpa anjing gaib kiriman Santo Yoseph. Kemanakah anjing gaib tersebut? Hanya ALLAH yang tahu (???).


BERSAMBUNG


Komentar Singkat

Tidak semua peristiwa dalam hidup ini bisa dijangkau dengan logika manusia yang fana dan terbatas. Termasuk masalah IMAN (kepercayaan). Jika ada IMAN yang bisa dibuktikan dengan logika, maka itu bukan lagi IMAN namanya.

SIAPAKAH PRESIDEN RI KE-7? MILITER ATAU SIPIL? PRIA ATAU WANITA?

 

Masa Depan NKRI & Pangeran Sabat (seri: 2)

 

Halooo halo Bandung

Ibu Kota Perang Bubat

Halooo halo Bandung

Kota pantang Hayam Wuruk

Sudah lama Sunda

Tidak jadi RI satu

Mengapa bisa begitu.....? Dan seterusnya?

 

 

Demokrasi Adalah Mimpi Buruk Bagi Kelompok Minoritas

 

Tidak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik ALLAH. Itu kata Para Ulama. Semua orang tahu itu. Dan itu artinya semua hal yang diciptakan manusia, entah yang berbau aliran, yang bercorak isme-isme, sistim-sistim dan seterusnya, pasti tidak ada yang sempurna.

 

Jika kita semua sepakat, maka kita juga akan sepakat kalau saya bilang; "SISTIM DEMOKRASI (boleh dibaca PEMILU), bukanlah sistim yang sempurna" karena yang menciptakan DEMOKRASI bukanlah mahluk yang sempurna. Di negara-negara yang penuh dengan pluralisme, contoh yang bagus adalah Indonesia sendiri, kelompok yang menjadi minoritas (baik secara etnis maupun agama), akan selalu menuai "mimpi buruk" pada setiap aksi politik yang dinamakan Pemilu.

 

Artinya pada setipa Pilpres (Pemilihan Presiden), tidak akan mungkin muncul Presiden yang Non Muslim. Kita mungkin masih ingat, ketika pada masa lalu, Almarhum Jenderal LB MOERDANI masih hidup, dna saat itu santer terdengar bahwa ada kemungkinan Jenderal LB Mordani akan terpilih sebagai Presiden RI, menggantikan Jenderal Besar Soeharto, banyak orang ribut. 

 

Sampai-sampai media asing ikut berembug, memberikan komentar mereka bahwa; "Sulit bagi warga Non Muslim di Indonesia untuk bisa tampil sebagai Presiden RI". Bahkan hingga duni a ini kiamatpun, selama mayoritas Indonesia adalah Muslim, tidak akan ada seorang Non Muslim, walau merupakan putera terbaik sekalipun, bisa muncul sebagai Presiden RI. Bukankah itu namanya "mimpi buruk?"

 

Lalu apakah orang-orang Muslim itu adalah orang-orang yang sangat "diskriminatif?" Jawabannya semua orang, dari peradaban manapun, apapun agamanya, apapun etnisnya, selama di sana mereka eksis sebagai "kelompok mayoritas", maka mereka akan "bersikap diskriminatif" terhadap kelompok minoritas. 

 

Misalnya saja; "Apa mungkin di Portugal, yang merupakan negara yang mayoritasnya adalah penganut KATOLIK ROMA, akan muncul Presiden yang Non Katolik ROMA? Jangankan yang MUSLIM? Yang sesama KRISTEN, tapi dari denominasi yang bukan KATOLIK ROMA, akan sanagt sulit muncul sebagai Presiden Portugal. 

 

Contoh lainnya; Misalnya di Timor Leste. Walaupun pada awal-awalnya, seorang Muslim (MARI ALKATIRI) muncul sebagai Perdana Menteri Timor Leste yang pertama, tapi akhirnya dilengserkan dengan alasan yang sulit dijelaskan. Padahal kalau dipikir-pikir, kesalahan yang dilakukan seorang Mari Alkatiri, hanya karena komentar-komentarnya yang menunjukkan karakter (sterotipe) orang Arab yang memang berwatak keras. Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk memkasa, bukan hanya rakyat biasa, tapi para Praktisi Gereja ikut turun ke jalan raya berdemo menuntut Mari Alkatiri harus turun dari singgasananya pada 26 Juni 2006. Padahal Mari Alkatiri dan isterinya lah yang menjahit BENDERA Negara Timor Leste.

 

Lalu coba perhatikan baik-baik. Apakah saat Pak XANANA menjadi Perdana Menteri (yang mana sebagian Menterinya melakukan KORUPSI), adakah praktisi Gereja KATOLIK ROMA Timor Leste mau beraksi membentuk dan membangun opini publik dengan turun ke jalan raya, berdemo untuk melengserkan seorang XANANA? Kalau itu bisa tejadi, maka seluruh AYAM di Timor Leste pada tumbuh giginya.  

 

Dan saya yakin, ke depannya, akan sulit bagi warga Timor Leste yang bukan seorang KATOLIK ROMA, akan muncul sebagai Kepala Negara Timor Leste. Contoh lainnya yang mungkin bagus untuk ditampilkan pada kesmepatan ini adalah; "Negara adi daya Amerika Serikat, yang konon merupakan negara paling demokratis di planet biru ini. Hingga memasuki Presiden USA ke-44 (Barrck Hussein Obama), Presiden Amerika yang beragama KATOLIK baru satu orang di antara 44 Presiden Amerika, yaitu Presiden USA ke-35, JOHN FITGERALD KENNEDY, Presdien termuda Amerika yang dilantik menjadi Presiden pada tahun 1961, tapi hanya berselang 2 tahun, tertembak tewas di Dallas, USA, pada 22 November 1963. 

 

Bisa ditmabhakn contoh dari peradaban lainnya. Apakah akan muncul seorang Presiden NON HINDU di INDIA? Atau apakah akan muncul seorang Perdana Menteri NON BUDHA di THAILAND? Jadi kalau ada yang bertanya; "Apakah orang Muslim itu adalah kelompok manusia yang suka sekali melakukan diskriminatif terhadap kelompok minroitas?" Jawabannya semua orang sama sama saja. Mau Muslim, mau Kristen (dengan nominasi apapun), mau Hindu, mau Budha, mau Indonesia, mau Eropa, mau Amerika, mau Portugal, mau Timor Leste, semuanya sami mawon.   

 Mungkin karena itulah ALLAH tidak pernah mengajarkan Demokrasi. Yang beragama coba buka INJIL. Setelah Yudas Iskariot menghianati Putera ALLAH, kemudian Yudas Iskariot menyesal lalu bunuh diri, apakah murid-murid YESUS memilih MATIAS yang harus mengisi kekosongan posisi yang ditinggalkan Yudas Iskariot dengan cara PEMILU (voting: one person one vote?). Tidak khan? Seorang Matias terpilih melalui cara: DIUNDI (melempar koin).


Karena itulah saya paling tidak setuju kalau dibilang; "Vox populi vox DEI". Bahasa Latin yang artinya; "Suara rakyat adalah suara TUHAN". Apakah selama 6 periode Pak Harto menduduki singgasananya sebagai Presiden RI, karena berlakunya adigum; "Vox populi vox DEI?" Anda tentu memiliki jawabannya sendiri-sendiri. 

Saya tidak tahu persis, siapakah orang pertama yang mengucapkan kalimat hebat ini (vox populi vox DEI). Yang pasti bukan orang Timor Leste. Pasti dia seorang FILSUF SEKULER. Karena, entah sadar atau tidak, siapapun dia, telah mereduksi kodrat ALLAH ke level yang sama dengan kodrat manusia. Padahal antara kodrat ALLAH dan kodrat manusia itu adalah dua substansi yang tidak bisa dipertukarkan posisinya. 

 

Manusia berkali-kali mencoba menolak dan menyangkal kodratnya yang hina karena penuh dengan dosa, untuk menjadi TUHAN Yang MAHA SUCI, tetapi selalu gagal dan gagal. Namun anehnya, manusia tidak pernah kapok-kapok. Sementara ALLAH, hanya sekali saja mencoba menjadi manusia, dan berhasil, tapi sakitnya minta ampun. Disiksa dan dibunuh dengan cara di-SALIB-kan. Mungkin ALLAH akan berpikir 1000X kalau mau kembali mencoba menjadi manusia lagi. Setelah membaca artikel ini, ke depannya saya berharap, Anda berpikir seribu kali untuk percaya pada adigum hebat itu (vox populi vox DEI).

 

"Mengapa anda hanya membuat kategori: Militer atau Sipil? Pria Atau Wanita? Mengapa tidak menambahkan; Agamanya apa? Muslim atau Non Muslim? Berasal dari Suku mana? Jawa atau luar Jawa?" Dan seterusnya. Kayaknya saya diberi pancingan.

 

Jujur saja, saya sama sekali tidak ingin membuat segmentasi kategorikal yang berkatian dengan isu-isu primordialisme yang ada hubungan dengan Agama dan Suku. Selain karena kurang nyaman membuat kategori sepeseti itu, juga karena memang tidak harus semua kategori dicantumkan di judul artikel ini.

 

Indonesia telah memunculkan 6 Presiden, walau ada yang mengatakan bahwa sebenarnya Indonesia telah memunculkan 8 Presiden. Keenam Presiden termaksud adalah; Bung Karno (Sipil, Muslim, Jawa), Pak Harto (Militer, Muslim, Jawa), Pak Habibie (Sipil, Muslim, Bugis), Pak Abdurachman Wahid alias Gus Dur (Sipil, Muslim, Jawa), Ibu Megawati (Sipil, Muslimah, Jawa) dan Pak SBY (Militer, Muslim, Jawa).

 

Pertanyaannya adalah; "Bagaimana latar belakang Presiden RI ke-7?" Apakah Presiden RI ke-7 akan muncul pada Pilpres berikutnya (2014), dengan catatan: Jika tidak ada KLB = Kejadian Luar Biasa sehingga Pak SBY memimpin RI hingga masa jabatan Beliau berakhir dengan baik-baik pada tahun 2014). Yang sudah pasti, pada Pilpres berikutnya, Pak SBY tidak bisa lagi ikut mencalonkan diri atau dicalonkan karena sudah 2X menjabat sebagai RI 1 (undang-undang tidak mengizinkan). 

 

Saya belum akan menjawab; "Siapakah Presiden RI ke-7? Atau bagaimana latar belakang Presiden RI ke-7? Apakah Militer atau Sipil? Pria atau Wanita? Agamanya apa? Sukunya apa? Dan seterusnya. 

 

Pada kesempatan ini saya hanya mau menjawab salah satu pertanyaan teman FB, yang bertanya begini; "Kamu khan orang Timor Leste. Kok pada Pilpres tahun 2009, kamu bisa tahu, kalau Presiden RI ke-7 belum bisa muncul pada saat itu? Padahal saya masih ingat betul, saat itu (Pilpres RI 2009), eyangku sampai pasang taruhan gila-gilaaan dengan temannya, karena eyangku yakin bahwa Presiden RI ke-7 akan muncul pada Pilpres 2009. Eeh..gak tahunya eyangku kalah taruhan dech. Karena Pak SBY kembali terpilih jadi Presiden. Kamu pasti peramal atau paranormal ya? Tolong dijawab yaa? GPL alias Gak Pake Lama".

 

Begini; Sudah berkali-kali saya jelaskan melalui FB saya (Rama Cristo) bahwa saya bukan peramal. Saya juga bukan paranormal. Kedua bidang itu (peramal dan paranormal) bukan kapasitas saya. Tapi saya adalah seorang MISTIKUS yang juga sekaligus seorang PENGGEMAR BILANGAN. Penggemar berat malah.

 

Kalau pada Pilpres RI 2009 saya berani mengedarkan naskah berseri sebanyak 3X, berjudul; "PRESIDEN RI KE-7 TIDAK AKAN MUNCUL PADA PILPRES 2009", seperti telah saya singgung pada seri pertama artikel ini, hanya karena berdasarkan sejumlah peristiwa yang sangat aneh yang saya alami. 

 

Jadi ada sejumlah peristiwa aneh (bernuansa mistis) yang saya alami beberapa kali (jadi bukan hanya satu kali), sehingga mengantarkan saya tiba pada satu keyakinan (jadi bukan lagi sekadar tiba pada satu kesimpulan), bahwa Presiden RI ke-7, belum akan muncul pada Pilpres 2009. Dan ternyata saya benar. 

 

Dua di antara peristiwa aneh yang saya alami, dapat saya sebutkan di sini, yaitu satu peristiwa aneh terjadi di Dili Timor-Timur (saya tidak menuliskan Timor Leste karena saat peristiwa aneh itu terjadi, Timor-Timur belum berpisah dengan Indonesia, saya saja baru masuk SMA Negeri I Dili). Dan satu peristiwa aneh terjadi di Kota MATARAM NTB (Nusa Tenggara Barat), pada bulan Juni tahun 2004, ketika saya (sebagai dokter muda) praktek di RSU Mataram NTB, di Lab Obgyn (Kebidanan & Kandungan).

 

Bagaimana kisah lengkap kedua peristiwa aneh itu? Akan saya ceritakan pada seri ketiga artikel ini. Jadi jika Anda penasaran ingin mengetahui kisahnya, jangan lupa kunjungi terus Rama Clinico. Yang sabar ya? Bukankah orang sabar itu disayang TUHAN?

 

 

BERSAMBUNG 


Friday, August 10, 2012

NILAI FISIKA KESEHATAN UNTUK MAHASISWA FKM UNPAZ

Saya baru saja menerima informasi (via SMS dari salah satu mahasiswa FKM UNPAZ) bahwa nilai FISIKA KESEHATAN untuk mahasiswa FKM Angkatan 2010 (dan mahasiswa FKM angkatan sebelumnya yang memprogram ulang mata kuliah FISIKA KESEHATAN), akan diambil alih dan ditetapkan oleh Pimpinan Fakultas. 

Jika informasi ini benar, saya syukuri saja, agar dengan demikian saya tidak perlu lagi repot-repot mengurus nilai Fisika Kesehatan dari sekitar 500-an mahasiswa (9 kelas paralel).

Tapi yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah; "Atas dasar apa Pimpinan Fakultas (FKM) UNPZ menetapkan nilai mahasiswa? Apakah mahasiswa telah diminta mem-program ulang?" Atau Pimpinan Fakultas hanya menciptakan nilai dalam tanda kutip, tapi tanpa mewajibkan mahasiswa memprogram mata kuliah Fisika Kesehatan? Jika cara ini yang ditempuh, akan menjadi satu perseden yang kurang baik. 

Dari ukuran norma-norma pendidikan, apakah dapat dibenarkan, sebuah Lembaga Pendidikan Terhormat, mengadakan nilai mahasiswa, dari tidak ada menjadi ada, tanpa berdasarkan kepada hasil pencapaian dari mahasiswa yang bersangkutan?

Mengenai nilai Fisika Kesehatan Mahasiswa FKM Angkatan 2010 (ditambah dengan belasan mahasiswa angkatan sebelumnya yang memprogram ulang mata kuliah Fisika Kesehatan), belum bisa saya umumkan, karena kami (saya sebagai dosen dan para mahasiswa) terikat pada "aturan main" yang sudah menjadi kesepakatan bersama. Yaitu bahwa, saya tidak akan mengumumkan nilai Fisika Kesehatan, jika mahasiswa "BELUM MENYELESAIKAN TUGAS" yang jauh-jauh hari telah saya berikan kepada mereka.

Tugasnya tidak terlalu sulit. Tiap kelas dibagi dalam 4 grup. Masing-masing grup membuat satu makalah. Satu grup membuat makalah mengenai "teori IZAAC NEWTON dan hubungannya dengan kesehatan". Satu grup membuat makalah mengenai "teori GALILEO GALILEI dan hubungannya dengan kesehatan". Satu grup lagi membuat makalah mengenai "teori ARCHIMEDES dan hubungannya dengan kesehatan". Dan grup satu lagi membuat makalah mengenai "teori WILLIAM HARVEY dan hubungannya dengan kesehatan".

Setelah makalahnya beres, akan diplenokan di tiap kelas. Tapi sampai saya kembali ke Bali, belum ada satu grup pun yang mampu menyelesaikan tugas tersebut di atas. Saya melihat adanya kesulitan mahasiswa dalam hal menulis karya-karya ilmiah, yang dikarenakan kurangnya pembinaan dalam hal menulis karya-karya ilmiah. Jadi bukan total kesalahan mereka. Kesulitan lainnya adalah "penguasaan Bahasa Melayu-Indonesia" yang belum memadai, yang juga bukan karena dosa mereka, melainkan diakibatkan mereka adalah generasi transisi yang penuh dengan guncangan, akibat perubahan & penerapan sistim yang tidak gradual".

Misalnya ketika mereka duduk di bangku SD, SMP & SMU, situasi politik di Timor Leste sama sekali tidak kondusif untuk menghadirkan atmosfir yang baik dan ideal bagi keberlangsungan proses belajar mengajar. Akibatnya, baik guru-gurnya maupun murid-muridnya, mengajar dan belajar apa adanya. Maka begitu mereka memasuki tahap pendidikan yang lebih tinggi (Universitas dan atau Institut), baru di sana kelihatan. 



Ketika saya ditetapkan Pimpinan Fakultas untuk menjadi salah satu "Dosen Pembimbing Skripsi", saya menemukan masalah besar yang kiranya membutuhkan pembenahan serius. Ada baiknya Pimpinan Universitas dan atau Fakultas, perlu memikirkan untuk mengadakan satu program yang berkesinambungan, bagaimana membimbing mahasiswa secara gradual (bertahap) mulai dari saat mahasiswa di Semester pertama dan seterusnya, untuk membiasakan diri belajar dan menerapkan cara atau metode menulis karya-karya ilmiah yang baik dan benar, sesuai dengan standar-standar sudah baku.

Dengan demikian, diharapkan, pada semester akhir, mahasiswa tidak lagi "gagap" untuk menulis karya ilmiah yang berkwalitas. Karena mereka sudah memiliki modal yang cukup. Jika tidak, maka apa yang terjadi? Mahasiswa akhir, akan menulis satu karya ilmiah (SKRIPSI), yang asal-asalan. Ya, asal jadi-lah. Dosen Pembimbing Skripsi itu sendiri ikut "pusing tujuh keliling". Apakah dia harus mengajari mahasiswa mengenai BAHASA MELAYU-INDONESIA yang baik dan benar (referensinya EYD = Ejaan Yang Disempurnakan) atau dia hanya fokus membimbing isu yang menjadi pokok (substansi) materi yang berkaitan dengan Skripsi?

Menulis karya ilmiah yang baik, yang ideal, yang berkwalitas, yang memenuhi kaidah-kaidah penulisan karya ilmiah yang telah baku, bukan sekadar membalikkan telapak tangan, seperti saya menulis dan berkoar-koar di blog ini. Atau di FB saya RAMA CRISTO. Karya ilmiah itu akan dibaca banyak orang. Dan karya ilmiah seorang mahasiswa yang dinamakan SKRIPSI, juga ikut mencerminkan "kwalitas sebuah Lembaga Pendidikan". Karena akan berlaku hukum; "BUAH JATUH TIDAK AKAN JAUH DARI POHONNYA". 



Kita kembali kepada isu NILAI FISIKA KESEHATAN Mahasiswa FKM UNPAZ. Jika informasi yang saya terima (melalui SMS beberapa menit yang lalu) adalah benar, bahwa Pimpinan Fakultas lah yang akan menetapkan nilai Fisika Kesehatan mahasiswa 9 kelas (paralel), ya saya tidak memiliki kompetensi untuk melakukan intervensi. Itu adalah sepenuhnya wewenang Pimpinan Fakultas. 

Tapi yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah; "Apakah dibenarkan, Pimpinan Fakultas menetapkan nilai mahasiswa tanpa alasan-alasan yang dapat dipertanggung-jawabkan. Demikian yang bisa saya sampaikan Terima-kasih atas segala kerja samanya yang baik. TUHAN YESUS memberkati. 

Denpasar Bali Indonesia, 10 Agustus 2012.


Catatan Kaki:

Artikel ini saya sharing ke wall FB PD II FKM UNPAZ.  
   

SI TANGAN SABAT: "Entitas Real Atau Sebuah Utopia?" (seri: 1)

Presiden & Perdana Menteri TL Tidak Akan Memimpin 5 Tahun Jika Si Tangan Sabat Benar-Benar Ada".

Mengapa Fretilin Selalu Dikalahkan Seorang Xanana?


Pengunjung Rama Clinico yang dimuliakan ALLAH. Saya berkewajiban bersyukur kepada ALLAH, karena hanya dengn Kemurahan-Nya lah, saya masih bisa diberi kesempatan untuk menuliskan artikel, yang mungkin menurut sebagian besar orang, adalah sebuah artikel yang aneh dan tidak masuk akal. Mungkin termasuk Anda yang membaca artikel ini juga akan menganggap artikel ini ditulis oleh orang "gila" yang kurang kerjaan. Namun apapun pendapat Anda, saya berharap, semoga ada di antara Anda yang mau membaca artikel ini hingga kalimat terakhir.

Pada seri pertama ini, saya belum mau menyinggung judul utama artikel ini. Tapi saya lebih senang untuk membahas lebih dulu anak judul artikel ini (MENGAPA FRETILIN SELALU DIKALAHKAN SEORANG XANANA?). Sementara pembahasan mengenai judul utama artikel ini, nanti saja belakangan.

Tapi sekadar komentar awal, saya ingin katakan bahwa, jika Anda membaca anak judul artikel ini, tolong diinterpretasikan dengan baik. Jangan sampai keliru membangun asumsi. Bunyi anak judul artikel (aneh) ini adalah; "PRESIDEN & PERDANA MENTERI TLS (TIMOR LORO SAE) TIDAK AKAN MEMIMPIN SELAMA 5 TAHUN JIKA SI TANGAN SABAT BENAR-BENAR ADA".

Ini artinya bahwa, jika tokoh yang masih misteri ini,  yang di telapak tangannya terdapat simbol-simbol SABAT dan sejumlah simbol lainnya (yang belum saatnya disebutkan di sini), yang saya beri sebutan sebagai SI TANGAN SABAT, benar-benar ada, benar-benar exist, bukan sekadar sebuah hayalan murahan seorang penulis amatiran, bukan sekadar sebuah utopia produk seorang pengarang, maka ALLAH akan menunjukkan KUASA-NYA untuk "MELENGSERKAN" kedua pucuk Pimpinan Timor Leste (Presiden Republik & Perdana Menteri), sebelum kepemimpinan mereka pada periode ini genap 5 tahun.

Bagaimana cara atau metode ALLAH untuk melengserkan kedua Pemimpin, itu adalah sepenuhnya menjadi "hak prerogatif" ALLAH. Tidak ada manusia manapun, termasuk saya, bisa melakukan intervensi, dalam bentuk apapun. Karena tidak akan ada manusia yang mampu "mengakili ALLAH".

Tapi jika SI TANGAN SABAT hanyalah merupakan sebuah utopia, yang tidak pernah ada, atau kalaupun ada, tapi simbol-simbol sebagaimana saya lihat sendiri pada kedua TELAPAK TANGANNYA adalah bukan Karya TANGAN ALLAH sendiri, maka apapun yang terjadi, ALLAH akan senantiasa melindungi kedua Pemimpin Timor Leste ini hingga 5 tahun, agar dengan demikian, ALLAH sendirilah yang akan menggugurkan THESIS-ku, sehingga saya tidak lagi menyebarkan isu-isu yang menyesatkan orang banyak.   
Pada Pemilu Legislatif 2007, FRETILIN keluar sebagai Pemenang Pemilu. Tapi GAGAL menduduki Kursi PM, gara-gara Parpol-Parpol yang saat itu mendapatkan Kursi di Parlamen, hampir semuanya tidak ada yang mau berkoalisi dengan FRETILIN, melainkan lebih senang berkoalisi dengan CNRT, Parpol yang saat itu dipimpin oleh Pak Xanana, yang ketika itu menempati urutan kedua, pada Pemilu Parlamen 2007.

Lalu setelah 5 tahun, pada Pemilu Legislatif 2012, FRETILIN, walau tidak memenangkan Pemilu, tapi Kursi FRETILIN di Parlamen meningkat (bertambah 5 Kursi). Itu artinya TINGKAT ELEKTIBILITAS FRETILIN (Kekuatan LEGITIMASI), mengalami PENINGKATAN. Perbedaan jumlah Kursi FRETILIN dengan CNRT sebagai Parpol Pemilu hanya selisih 5 Kursi.  Tapi lagi-lagi FRETILIN kembali DITOLAK & DISINGKIRKAN untuk tidak masuk GOVERNO V. Padahal Lider FRETILIN sudah terang-terangan bersedia ikut gabung dalam GOVERNO V? Bukankah ini namanya; "KEZOLIMAN?"

Pertanyaannya adalah; "Siapakah yang sebenarnya memaksa FRETILIN harus terus-terusan TERMARGINALISASI (terpinggirkan)?" Apakah rakyat Timor Leste? Menurutku; FRETILIN bukan dikalahkan oleh siapa-siapa. FRETILIN tidak pernah dikalahkan oleh LEMBAGA POLITIK (Parpol) manapun. FRETILIN juga tidak dikalahkan oleh rakyat Timor Leste. 

Melainkan FRETILIN dikalahkan oleh seorang XANANA. Termasuk pada Pemilihan Presiden 2012, FRETILIN juga dikalahkan oleh seorang XANANA? Calon Presiden yang merupakan Presiden FRETILIN, kalah oleh Calon Presiden yang di-back penuh oleh Pak Xanana. Bahkan bukan sekadar di-back up, melainkan Pak XANANA menjadi PROMOTOR TUNGGAL yang mengorbitkan Mayjen Taur Matan Ruak menjadi Presiden, mampu mengalahkan Capres FRETILIN di Pilpres putaran kedua.



Mengapa seorang XANANA begitu kuat dan penuh KHARISMA? Jawabannya terletak pada NAMA XANANA. Pythagoras (Bapa Bilangan asal Yunani, sebagaimana dikutip oleh Prof. Ravindra Kumar, Guru Besar Ilmu Matematika, pada South Pacific University, Suva, Fiji, berkata; 

"Dilahirkan pada saat tertentu dan memperoleh NAMA tertentu, bukanlah satu kebetulan". Saya pernah menonton acara KICK ANDY, di Metro TV, yang pada salah satu edisinya pernah menghadirkan Pak XANANA. Saat itu Pak ANDY F. NOYA (Host Metro TV) bertanya; "Mengapa Anda menggunakan Nama XANANA?"

Pak XANANA dengan gaya khasnya bercerita tentang sebuah pengalaman mistis; "Bertemu seorang KAKEK yang kemudian mengusulkan kepada seseorang yang bernama asli; JOSE ALEXANDRE GUSMAO, untuk menggunakan NAMA XANANA". 

Entah jawaban Pak XANANA kepada Pak ANDY F. NOYA, benar atau tidak, hanya ALLAH dan Pak XANANA yang tahu persis. Tapi sebagai seseorang yang suka mengutak-atik ANGKA, saya merasa sangat tertarik untuk mengungkap MISTERI BESAR di balik NAMA XANANA. Karena NAMA ini (XANANA) begitu menggema ke mana-mana, bahkan hingga ke ujung-ujung bumi. Nama ini pula yang telah membuat FRETILIN selalu menuai mimpi buruk. Ada apakah di balik NAMA ini?


BERSAMBUNG (seri 2 akan diterbitkan pada Hari Saptu, 11 Agustus 2012).

Thursday, August 9, 2012

SI TANGAN SABAT TAMA LISTA V GOVERNO KA LAE?


Maluk Timor oan sira hotu...!!!

Iha hau nia colegas FB bal-balu husu mai hau liu inbox, nunee; "Irmaun Rama Cristo dehan, se karik SI TANGAN TANGAN SABAT la tama iha V Governo, entaun Governo ne sei la ukun to tinan 5 (2017). Horseik dia 8 Agusto 2012, V Governo halao tiha ona tomada de posse iha Palacio Nobre. Ne be hau atan atu husu; "SI TANGAN SABAT tama iha lista V Governo ka lae?"

Hau nia resposta mak ne; "SI TANGAN SABAT la tama iha V Governo. Ne duni se SI TANGAN SABAT la tama V Governo ne, laos dehan automaticamente V Governo atu monu iha dalan klaran? V Governo atu monu iha dalan klaran ou lae, depende ba assunto tuir mai ne;

"Si TANGAN SABAT ne iha duni ka lae? Existe duni ka lae? Keta halo ba be hau mak naran imagina deit. Afinal das contas, na realidade, SI TANGAN SABAT la iha ida". La existe ida.

Imi balu bele fiar hau nia lia fuan katak SI TANGAN SABAT ne iha duni (existe duni). Mas labele hotu-hotu fiar hau. Fiar hotu fali mos la duun diak. Ne la RAME ida. Tenki iha balu (diak liu tan mairoia) keta fiar hau, katak SI TANGAN SABAT ne iha duni.

Mas hau pessoal fiar katak SI TANGAN SABAT ne iha duni. Hau hare duni ho matan (mas hau la dehan hau kaer ho liman, tamba ami rua MANE NORMAL hotu). Devez enquando ami rua dada lia uitoan. Mas nia kulia la barak. Ita atu hetan nia mos susar. Nia moris ninian ket-ketak hela deit. Mas iha nia liman laran iha sinal barak que estranho loss. SIMBOLO ida mak kona ba SABAT. Alem disso, iha mos CRUZ, MAPA TIMOR, CORACAO (simbolo CARIDADE). Nia MANE. Laos feto. Sa tan LIRAS TOHAR.

Masque nunee, buat hotu sei iha nakukun laran. Ita hotu hein deit, saida loss mak atu acontece iha tinan 5 laran mai (antes 2017).  Atu loss ka la looss, ita hotu hein deit hodi assiste.


Se mak sente aan emar Cristaun, haree ba le Biblia bebeik. Tamba iha tiha ona PREVISAUN Biblia kona ba SI TANGAN SABAT ne be mensiona tiha ona iha biblia. Hot-hotu reza. Reza ba nia aan. Reza ba nia familhias. Reza ba nia grupo. Reza ba nia nacaun. I ikus liu reza ba criatura hot-hotu iha mundo rai klaran.

Buat reza nee buat diak ida. Alem de haburas no hametin ita nia fiar no relasaun diak ho Nai MAROMAK, nunee mos buat reza ne sei ajuda ita, hodi forma ita nia Karakter diak liu tan. Orasaun ajuda ita haburas ita nia auto dumino, atu nunee ita nunka bele iha corragem forte, hodi ofende ema seluk arbiru deit, sa tan ofende ema nia dignidade pessoal. Tamba laiha ema ida iha mundo ne perfeito.

Reza nee hanesan mos dialgo entre ita ho Nai MAROMAK. Ema nebee reza bebeik, maioria antes atu hasai lia fuan ruma, sei sukat uluk ibu-tutun, kaer tilu-tahan no lamas kanuruk. La muta arbiru deit.

Husi Bali hau hato hakuak boot ba Timor oan hotu. Mas pessoalmente, hau ladauk bele hatoo PARABENS ba V Governo, nudar Instituisaun bot ida, ho razaun katak; "LA IHA BE MATAN IDA, AO MESMO TEMPO BELE HASAI BE MERAK NO BE MOS DALA IDA. Mas hato parabens ba pessoal bal-balu nebee involve iha V Governo, hau hato tamba ho razaun; Colegas i  Familhias. Boa sorte i susessu.

SIAPAKAH PRESIDEN RI KE-7? PRIA ATAU WANITA? MILITER ATAU SIPIL?

Masa Depan NKRI & Pangeran Sabat (seri: 1)

 


A drop of ink, can move a million of people to think
(unknown)

“Biarkan Amerika kembali menjadi Amerika
Sebab akulah si kulit putih yang miskin, dungu dan terkucilkan
Akulah si negro dengan beban luka-luka perbudakan
Akulah si kulit merah yang terusir dari tanahku sendiri
Akulah sang imigran yang masih terus mengais-ngais harapan
Dan hanya kutemukan gagasan-gagasan usang yang tolol
Saat anjing melahap anjing
Saat yang kuat melahap yang lemah”

(Langston Hughes/Penyair Amerika Serikat/1902-1967).
Sumber: L. Murbandono Hs/PEMIKIR BESAR DUNIA, Ucapan dan Kebijaksanaan, hal. 177/PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 2004).

SIS (Satu Introduksi Singkat).

Pengunjung RAMA CLINICO yang dikasihi  ALLAH.  Saya merasa berkewajiban bersyukur kepada ALLAH, karena hanya dengan rahmat-Nya lah saya masih diberi kesempatan untuk menulis artikel ini.
Saya telah lama tinggal di Bali. Bahkan lebih dari setengah usiaku, saya habiskan di pulau yang dijuluki sebagai; “Negeri Sejuta Pura”. Orang  bijak berkata; “Di mana bumi diinjak, di situ langit dijunjung”. Dalam rangka ikut merayakan HUT NKRI ke-67 (17 Agustus 2012), mulia hari ini, RAMA CLINICO akan menerbitkan sebuah artikel berseri, dengan judul utama adalah: SIAPAKAH PRESIDEN RI KE-7? PRIA ATAU WANITA? MILITER ATAU SIPIL?, dengan anak judul; "Masa Depan NKRI & Pangeran Sabat” Semoga Pengunjung Rama Clinico menyukai artikel ini. 

Thema sentral artikelku kali ini adalah mengenai “Siapakah tokoh yang akan terpilih sebagai Presiden RI ke-7?”. Juga thema ini akan secara khusus membahas “Masa Depan NKRI”. Pembahasan mengenai “tokoh yang akan muncul sebagai Presiden RI ke-7, akan saya bahas dalam posisiku sebagai seorang MISTIKUS, tapi bukan POLITIKUS. Kemudian mengenai masa depan NKRI, akan saya bahas dalam statusku sebagai seorang “penggemar bilangan”. Bahkan “penggemar berat”.

Dengan demikian, jika ada pemikiran atau pandangan atau opini dalam artikel ini yang bertentangan dengan pemikiran, pandangan dan atau opini Anda, maka hal itu terjadi bukan karena "bunda salah mengandung". Tapi semata-mata karena status kita yang jauh berbeda.

Selain dua isu di atas (Siapakah Presiden RI ke-7 & masa depan NKRI), juga artikel berseri ini akan membahas juga seorang tokoh yang saya juluki sebagai; “PANGERAN SABAT”. Dan jika saya tidak salah, sepertinya saya orang pertama yang menemukan dan menggunakan atribut mulia ini (PANGERAN SABAT). Kalau Pythagoras (Bapa Ilmu Bilangan asal Yunani) adalah orang yang pertama kali menggunakan istilah; “PHILOSOPHIA” (Bahasa Yunani yang artinya; mencintai kebijaksanaan, philos = cinta, Sophia = kebijaksanaan), maka saya, RAMA CRISTO, adalah orang yang pertama kali menemukan dan menggunakan atribut (terminology); “PANGERAN SABAT”. 

Tapi jika klaim saya ini salah, artinya jika sebelumnya telah ada seseorang di luar sana, atau pada peradaban masa lalu telah pernah menggunakan atribut mulia ini (PANGERAN SABAT), maka harap saya diberitahu (diingatkan).  



Satu Kilas Balik

Pada saat Pilpres (Pemilihan Presiden) RI, yang diselenggarakan pada 9 Juli 2009, saya mengedarkan sebuah naskah berseri, dengan judul; “PRESIDEN RI KE-7 TIDAK AKAN MUNCUL PADA PILPRES 2009”. Naskah tersebut diedarkan secara terbatas (hanya untuk kalangan tertentu) dan peredarannya dilakukan secara manual. Kebetulan saat itu saya belum memiliki situs (blog).

Seri pertama saya edarkan pada 13 Maret 2009. Seri kedua diedarkan pada 9 April 2009. Dan seri ketiga diedarkan pada 7 Juli 2009 (2 hari sebelum Pilpres diselenggarakan, 9 Juli 2009). Ada sejumlah “dokter ahli” yang berprkatek di sepanjang Jalan Diponegoro Sanglah Denpasar (dosen-dosenku sendiri di FK UNUD (Fakultas Kedokteran Universitas Udayana), ikut kecipratan mendapatkan naskah tersebut. 

Salah satunya adalah; Prof. Dr. dr. I Gede Putu Surya,Sp.OG (Ahli Kebidanan & Kandungan, sekaligus salah satu Guru Besar pada Lab Obgyn FK UNUD) yang berpraktek di Jl. Diponegoro, tepatnya di sebelah Mesjid Annur. Mungkin naskah tersebut sudah Beliau buang atau bakar setelah Pilpres berlalu.
   

BERSAMBUNG (seri 2 akan diterbitkan pada Saptu, 11 Agustus 2012).

Tuesday, August 7, 2012

PARABENS BA Dr. MARI ALKATIRI

 
By: Natanael Lobato

Dr. Mari Alkatiri. Moris iha Dili, Timor-Leste iha 26 Novembro 1949. Secretariu Geral FRETILIN. Xefe Ministru iha governu transitoriu, Setembru 2001 to’o 20 Maiu 2002, no hori 20 Maiu 2002 to’o 26 Junhu 2006 Primeiru Ministru Primeiru RDTL.

Marí Alkatiri remata nia eskola primária no sekundária iha Dili. Nia sai husi Dili iha 1970 hodi kontinua nia estudu no halo hotu nia kursu iha universidade nian iha Angola no Mosambike. Nia graduado hanesan enjiñeiro-jeógrafo iha Eskola Jeografia Angola nian depois graduado iha Lei iha Universidade Eduardo Mondlane, Maputo, Mosambike husi 1992-1998. 

 

Nia hanorin iha universidade ida ne'e kona ba Lei Internasionál Publiku no Lei Konstitusionál, no servisu nudar konsultór senior legál nian iha eskritóriu advogadu privadu iha Maputo, Mosambike husi 1992-1998. Nia uluk konsultór kona ba Lei Internasionál Públika no Lei Konstitusionál ba Parlamentu Mosambike husi 1995-1998, no membru ba grupo ne'ebe hakerek (draft) reforma lejislativa kona ba empreza privada iha Mosambike. Dr. Alkatiri hahu halo nia programa PhD kona ba "Lei Konsuetudináriu ne'ebe relasiona ho Lei Formál Pozitiva" maibe nia kursu ne'e interrompe tiha tamba nia fila hikas mai Timór Lorosa'e iha loron 13 Outubro 1999.

ASAUN POLITIKA
 
Molok nia sai ba Angola, Marí Alkatiri sai ativu iha luta ba independénsia iha fulan Janeiru 1970 hodi hari'i grupu klandestinu ba sidadaun Timór Lorosa'e nian ho naran "Movimentu Libertasaun ba Timór-Leste". So nia deit mak moris ba membru grupu ida ne'e. Liu tiha Revolusaun iha Portugal, iha loron 25 Abril 1974 ne'ebe loke ambiente polítiku ne'ebe livre no bele hamoris partidu polítiku no organizasaun sira iha Timór Lorosa'e.

Iha loron 20 Maiu 1974, Marí Alkatiri sai hanesan fundadór Asosiasaun Sosiál Demokrata Timorense (ASDT). Assosiasaun ida ne'e foti Dr. Alkatiri sai adjuntu sekretáriu-jerál. Dezenvolvimentu polítiku desde 1974 mak determina hodi transforma ASDT (asosiasaun polítika ida) sai FRETILIN (frente polítika) iha loron 11 Setembru 1974. Marí Alkatiri sai hanesan membru fundadór FRETILIN no membru Komité Sentrál no sai frente adjuntu sekretáriu ba asuntus internasionais. Iha fulan Outubru 1975, Komité Sentrál foti Marí Alkatiri sai hanesan komisáriu polítika nasionál.

Atividades forsa militar Indonézia nian iha tinan 1975 hodi determina dezenvolvimentu polítika barak iha Timór Lorosa'e, inklui mos hari'i Forças Armadas de Libertação Nacional de Timor-Leste, FALINTIL iha loron 20 Agostu 1975. Marí Alkatiri hamutuk hodi organiza FALINTIL no husi grupu ida ne'e ema nain rua deit mak sei moris.

Molok hahú invazaun no okupasaun iha Timór-Leste, FRETILIN foti Marí Alkatiri atu partisipa iha kampaña hodi mobiliza komunidade internasionál kontra hasoru invazaun bo'ot ne'e. Nia vizita ba nasaoens walu iha Áfrika hodi buka apoiu no fila mai hikas Timór-Leste iha 23 November 1975, hili Marí Alkatiri sai sefi komisaun ne'ebe hakerek Konstitusaun Timór Lorosa'e nian molok atu halo deklarasaun independénsia. FRETILIN deklara independénsia iha 28 Novembru 1975, no proklama tiha ona formasaun Repúblika Demokrátika Timór Lorosa'e nian. FRETILIN hili Marí Alkatiri sai Ministru Estadu no Plenipotensiáriu ba Asuntus Politiku nian.

Konsekuénsia direta invazaun no infiltrasaun militar Indonézia ne'ebe besik dadauk ona atu invade rai ida ne'e, Vise-Prezidente no Primeiru Ministru Timór Lorosa'e, Nicolau Lobato, husu ba Komité Sentrál FRETILIN nian hodi haruka delegasaun ida ba fatin hotu-hotu atu mobiliza komunidade internasionál hodi nune'e bele desvia planu invazaun nian. Marí Alkatiri mos membru ba delegasaun ida ne'e, no husik Timór Lorosa'e iha 4 Dezembru 1975 (loron tolu molok indonéziu halo invazaun). Lider Timór oan nain tolu inklui nia mak sai aviaun ikus liu ne'ebe sai husi Timór Lorosa'e molok invazaun. Nia hanesan sefi delegasaun FRETILIN nian iha liur ne'ebe hela iha Mozambique to'o iha 1999.



INVAZAUN NO REZISTENCIA

Esperiénsia ne'ebe Marí Alkatiri hetan dala uluk hanesan Xefe Delegasaun FRETILIN nian iha liur iha Dezembru 1975 iha Konsellu Seguransa Nasoens Unidas nian ne'ebe foti kedas rezolusaun ida ne'ebe kondena invazaun Indonézia iha Timór-Leste.

Iha 1977 hili Marí Alkatiri hanesan Ministru Relasaun Esterna nian ba Repúblika Demokrátika Timór Lorosa'e iha liur. Husi 1975 to'o 1982 Dr. Alkariri partisipa iha sesaun komisaun hotu-hotu ba dala hat iha ONU.

Iha 1982, Asembleia Jerál Nasoens Unidas nian adota rezolusaun ne'ebe Sekretário Jerál husu hodi hahu konsulta ho partidu hotu-hotu nia vizaun hodi buka oportunidade atu hetan desizaun ida hodi resolve problema Timór-Leste nian no halo relatóriu ba Asembleia Jerál (Rezolusaun 37/30 iha loron 23 Novembru 1982). 
 
Dr. Alkatiri partisipa iha konsulta hotu-hotu ne'ebe Sekretáriu Jerál ONU halao, no husi tinan 1983 ba oin no iha reuniaun hotu-hotu ne'ebe Komisaun Direitus Umanus ONU nian halo kona ba Timór Lorosa'e. Nia xefia delegasaun Timór Lorosa'e nian iha 1985 ba Konferénsia Movimentu Ministeral Naun-Aliñadu no internasionál seseluktan ne'ebe koalia kazu Timór Lorosa'e nian. Iha tinan 1990 liu mai, formatu ONU hodi suporte prosesu konsulta ne'ebe muda no hari'i enkontru trilateral entre ONU, Indonézia no Portugál (de jure ba poder administrativu ba Timór Lorosa'e). Dr. Alkatiri partisipa iha prosesu ida ne'e no mos ONU suporte no fasilita "Diálogu Inklusiva Timor oan" hotu ne'ebe halo iha 1995.

Iha 1994 halao kn'ar diplomátiku ne'ebe lori resisténsia nia reprezentante ba fatin hotu-hotu ne'ebe rekoñese hanesan komponentes tolu luta ba vizaun ida libertasaun (hamutuk ho forsas, no frente klandestina). Hili Dr. Alkatiri sai hanesan membru ida husi nain hat hodi halo koordenasaun ba Komisaun Frente Diplomátika.

Hanesan parte bo'ot ba ajustamentu hodi hahu rezisténsia iha tinan klaran 1980's, Resisténsia restrutura fali sira nia organizasaun ida ne'e sai hanesan "Konvensaun Nasionál Timór-Leste iha Diáspora" iha Abril 1998. Ida ne'e hari'i Conselho Nacional da Resistência Timorense (CNRT) -- organizasaun umbrella ne'ebe organizasaun polítika timorense hotu-hotu ba independénsia. CNRT adota "Magna Carta", dokumentu ida ne'ebe fo planu jerál ba futuru Timór Lorosa'e nian. Dokumentu ida ne'e aprezenta ba komunidade Internasionál hanesan vizaun Resisténsia ba futuru estadu foun Timór Lorosa'e nian. Dr. Aklatiri mak autor ba dokumentu ida ne'e. Iha konvensaun ida ne'e hili nia hanesan membru Komisaun Polítika Nasionál CNRT nian.

LIBERTASAUN

Iha Agostu 1999, prezidente CNRT Xanana Gusmão hili Marí Alkatiri hodi toma konta asuntu Tasi Timór nian husi parte rezisténsia nian. Ho nia planu, Akordo Tasi Timór - ikus mai, Tratadu Tasi Timór -- hetan susesu bo'ot halo negosiasaun ho Austrália, ne'ebe Timór Lorosa'e hetan parte 90/10 Liu husi Marí Alkatiri nia kna'ar, Timór Lorosa'e halao negosiasaun dezenvolvimentu Bayu-Undan ho Conoco Phillips, hanesan investidór bo'ot iha Tasi Timór nian, ne'ebe estimativa hodi fo segura biliaun 3 USD iha rendimentu liu ba tinan 17 too tinan 20 ba Timór Lorosa'e. 
 
Nia mos manten nafatin nia pozisaun kona ba fronteira tasi nian ne'ebe permanente. Permanente fronteira ne'ebe Dr. Alkatiri hare katak ne'e parte Timór Lorosa'e nia direitu ba auto-determinasaun, hanesan mos fronteira hodi defini territóriu ida ne'e. Importante liu, permanente fronteira sei fo asesu ba rekursu barak iha Tasi Timór nian, ne'eduni Timór Lorosa'e bele dezenvolve no hasoru dezafiu bo'ot no labele depende deit ba ajuda husi rai liur.

Dr. Alkatiri sai Vise-Koordenadór Konsellu Presidensiál FRETILIN nian husi Agostu 1998 to'o Abril 2001. Nia mos membru Konsellu Nasionál Konsultativu (CNC) Timór Lorosa'e nian iha 2000. Iha Setembru 2001 foti Dr. Alkatiri hanesan Xefe Ministru ba Segundo Governu Tranzisaun no Ministru ba Dezenvolvimentu no Meiu Ambiente ba Repúblika Demokrátika Timór Lorosa'e nian. Nia prezidente ba Komisaun ba Dezenvolvimentu no hakerek Planu Dezenvolvimentu Nasionál.

Marí Alkatiri nia lideransa, iha tinan rua restaurasaun independénsia Timór Lorosa'e sai membru Fundu Monetáriu Internasionál, Nasoens Unidas, Banku Mundiál no Banku Aziátiku Dezenvolvimentu. Timór-Leste no mos membru CPLP, komunidade ba país hirak ne'ebe koalia lian portugés. Timór Lorosa'e mos nia estatuto hanesan observadór ho Pacific Island Forum (PIF) no Asosiasaun País Sudoeste Aziátiku (ASEAN).

Marí Alkatiri halo polítika ne'ebe tranparénsia no responsabilidade iha nivel hotu-hotu iha governu. Nia inisiativa hodi halo programa "Governasaun Aberta" iha Janeiru 2003 ne'ebe ba distritu hotu-hotu iha Timór Lorosa'e ne'ebe hetan rezultadu pozitivu teb-tebes.

Dr. Alkatiri simu Prémiu "Lifting up the world with a Oneness" (hari'i mundu ho unidade - Prémiu Fuan "Heart Award") iha marjem sessaun 58.ª iha Asembleia Jerál ONU nian iha Nova Iork iha Outubru 2003. Sira ne'ebe simu mos prémiu ida ne'e mak Nelson Mandela, Amo Papa Joaun Paulu II, Inan Tereza no Mohamed Ali.